Sabtu, 21 Mei 2011

Khotbah Jangkep Juni 2011

Khotbah Jangkep

BULAN

J U N I - 2011

DAFTAR ISI

Khotbah Jangkep Kamis, 2 Juni 2011

Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus (Putih)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

SELAGI MASIH ADA WAKTU-------------------------------------------------------- 324

Khotbah Jangkep Bahasa Jawa

MUMPUNG TAKSIH WONTEN WEKDAL ----------------------------------------- 330

Oleh Pdt. Tanto Kristiono

Khotbah Jangkep Minggu, 5 Juni 2011

Minggu Paskah Ke Tujuh (Putih)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

BERTEKUN BERSAMA DI DALAM DOA ------------------------------------------- 335

Khotbah Jangkep Bahasa Jawa

TUMEMEN ING PANDONGA SESARENGAN ------------------------------------- 344

Oleh Pdt. Kristian Prawoko

Khotbah Jangkep Minggu, 12 Juni 2011

Minggu Hari Raya Pentakosta (Merah)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

ROH KUDUS MENGARUNIAKAN CARA BARU DALAM BERKOMUNIKASI ------ 350

Khotbah Jangkep Bahasa Jawa

ROH SUCI MARINGAKEN CARA KANGGE MARTOSAKEN INJIL KRATONING ALLAH ----- 355

Oleh Pdt.Purnomo Kristiawan

Khotbah Jangkep Minggu, 19 Juni 2011

Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus (Minggu Trinitas)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Ajarlah dan baptislah dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus -- 358

Khotbah Jangkep Bahasa Jawa

Padha baptisen ing asmane Sang Rama, Sang Putra lan Sang Roh Suci -366

Oleh Pdt.Ecclesia Ratri

Khotbah Jangkep Minggu, 26 Juni 2011

Minggu Biasa KeTiga belas (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Sambutlah Semua Orang -------------------------------------------------------- 372

Khotbah Jangkep Bahasa Jawa

DEN TAMPI SaDAYA TIYANG ------------------------------------------------------- 381

Oleh Pdt.Ecclesia Ratri

Khotbah Jangkep Kamis, 2 Juni 2011

Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus (Putih)

Selagi masih ada waktu

Bacaan I: Kis. Para Rasul 1: 1-11; Tanggapan: Mazmur 93;

Bacaan II: Efesus 1: 15-23; Bacaan III: Injil Lukas 24: 44-53

Tujuan:

Jemaat dapat menggunakan waktu yang ada

untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

v Dasar pemikiran:

Hidup yang dijalani manusia berjalan di dalam waktu yang tak pernah kembali. Manusia berlomba dengan larinya sang waktu. Manusia kerap kali ketinggalan oleh percepatan waktu. Manusia tidak dapat memperhatikan segala sesuatu yang sedang terjadi, mau ke mana dan hendak mengapa. Manusia hanya sering pula mengambil sikap mengikuti arus air mengalir.

Dalam perjalanan waktu itu pun manusia tidak mampu untuk menggunakan waktu sebaik mungkin. Sampai kepada persoalan hakiki atas manusia itu, yakni sukacita bersama dengan Tuhannya. Tuhan memberikan waktu di dunia ini untuk menikmati apa yan sudah diberikan oleh Yesus Kristus.

Manusia yang tanggap terhadap pemberian Tuhan itu manusia yang bahagia karena dapat menggunakan waktu untuk bersama dengan Tuhan. Lebih indah lagi jika manusia di tiap hari hidupnya menghayatinya secara baru.

Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kedaulatan Tuhan Yesus atas waktu dan kehidupan. Ia tak lagi dikuasai oleh ruang dan waktu, sehingga ia dapat dijumpai oleh siapapun tak terbatas oleh waktu hidup manusia.

v Keterangan Tiap Bacaan:

Kisah Para Rasul 1: 1-11 (Jadilah saksi-Ku)

Menarik bagi kita bahwa permulaan buku Kisah Para Rasul ini tidak serta merta tentang kiprah para rasul, namun diawali dengan kisah Yesus Kristus untuk mempertegas berita apa yang hendak diwartakan oleh para rasul mengenai Tuhan mereka itu.

Tuhan Yesus menegaskan kembali adanya realitas baru pengganti kehadiran secara fisik-Nya di dunia ini, yakni Roh Kudus yang akan umat percaya terima. Penegasan itu sangat perlu disampaikan oleh Tuhan agar mereka mempersiapkan diri dan tidak menjadi kecewa.

Bagian ini menceritakan lebih lanjut hal secara fisik dan kasat mata hal Tuhan Yesus yang naik, sehingga para murid menegadahkan wajah ke atas. Naiknya Tuhan Yesus dipahami naik ke sorga. Sehingga gambaran orang sorga itu di atas, hal itu membuat orang berpikir “kosmologis”, artinya sorga ada di atas sebagai bagian dari kebesaran dan keluasan jagad raya ini. Pandangan atau gambaran seperti ini tidak salah karena bagaimana orang bisa memahami dengan benar letak sorga yang “terpisah” dari bumi. Dapat diartikan pula bahwa terangkat ke atas atau naik dan sorga merupakan istilah teologi untuk menunjukkan bagaimana Tuhan Yesus kembali dalam kemuliaan sebagai Sang Mahatinggi dan kembali memegang kuasa dalam kehidupan ini, yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Mazmur 93 (Tahta Tuhan Kekal adanya)

Kemuliaan Tuhan meliputi seluruh bumi seluruh kehidupan ini, semua menjadi saksi atas kemuliaan dan kebesaran Tuhan, alam pun menjadi saksi atas kemuliaan Tuhan sebagai Raja semesta. Bagian yang menghidupi bumi yakni sungai dan lautan menunjukkan hal tentang kekuasaan Raja itu. Jika bagian yang menghidupi bumi itu menjadi saksi atas kebesaran Raja, maka siapa yang bisa menghindar jika Tuhan itu penguasa atas kehidupan ini.

Efesus 1: 15 – 23 (Jemaatadalah TubuhNya)

Surat rasul Paulus ini menuturkan bahwa rasul Paulus memuji iman dan perbuatan orang-orang percaya di kota Efesus, dan mengharap di dalam doa agar jemaat Efesus bertambah dalam hikmat dan pengertian yang mendalam tentang Kristus dengan segala misteri kemuliaan-Nya yang melebihi segala pemerintah dan penguasa serta nama dan waktu yang tak terbatas , yang menjadi kepala gereja dan memenuhkan diri-Nya bagi orang-orang tebusan-Nya itu. Penuturan ini menunjukkan bagaimana Kristus yang menjadi penentu atas kehidupan di dunia ini, tak ada yang dapat keluar dari kekuasaan dan kasih serta kemuliaan Kristus.

Injil Lukas 24: 44 – 53 (Kamu adalah saksi dari semua)

Penuturan Lukas di bagian terakhir dari bukunya yang pertama (Injil Lukas) dan akan disambung di buku keduanya (Kisah Para Rasul), menutup dengan tahapan spesifik yang dilakukan Yesus terhadap para murid. Tahap spesifik itu di mana para murid tidak lagi hanya membantu pekerjaan gurunya selama ini atau hanya mengikuti sambil melihat apa yang dikerjakan gurunya dari dekat, akan tetapi diberikan-Nya kemampuan untuk mengerti Kitab Suci seperti yang dimaksud oleh Yesus, yakni segala kitab taurat Musa, nabi-nabi dan mazmur yang berisi kesaksian tentang Mesias yang persis sama apa yang dikatakan Yesus itulah yang terjadi pada diri-Nya itu juga. Selanjutnya Yesus menandaskan hal hubungan yang sangat khusus dengan para murid dengan meminta tetap tinggal di Yerusalem sampai hal yang terbesar dalam hidup para murid yakni dilengkapi dengan kekuasaan dari tempat mahatinggi akan diberikan kepada mereka. Mereka juga diperkenan oleh Yesus untuk berpisah dengan gurunya dengan hal yang belum pernah mereka lihat, untuk menegaskan siapa sejatinya Yesus guru mereka selama ini, Yesus terangkat naik ke sorga.

Harmonisasi bacaan:

Tuhan Allah menjalankan sejarah kehidupan atas manusia dan menentukan bentangan waktu atas manusia, kepada manusia diberikan diberikan waktu untuk mendengarkan dan menyaksikan kesempurnaan karya Allah yang telah dikerjakan di dalam Yesus Kristus. Dari wujud karya Allah di dalam Yesus Kristus itu manusia diundang untuk menikmati pemeliharaan Allah dan belajar mendalami arti kasih Allah yang demikian besarnya. Hingga pada suatu ketika manusia melalui para murid Yesus, diyakinkan sendiri oleh Yesus Kristus hal realitas Allahdan karya keselamatan yang diberikan-Nya melalui hikmat yang diberikan Yesus untuk mengetahui rahasia terpendam dalam nubuat tentang Mesias dalam teks kitab suci serta diperkenankan melihat dengan kasat mata hal Yesus Kristus naik meninggalkan dunia ini.

v Khotbah Jangkep.

Selagi masih ada waktu

Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

B

agaimanakah kita memandang hidup dan kehidupan ini? Apakah kita memandangnya dari bagian bahwa hidup itu sekedar mengalir saja di mana manusia sudah seharusnya mempertahankan hidup dengan bekerja, apapun jenis pekerjaan itu tidak jadi masalah? Apakah kita memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang nyata ini, keberadaannya terbatas dan berakhir dengan kematian karena usia atau karena penyakit dan kecelakaan? Apakah kita memandang bahwa hidup ini dengan manusia di dalamnya, sama-sama sadar menciptakan peraturan demi kedamaian bersama. Ataukah kita memandang bahwa hidup ini merupakan buah dari kearifan lokal yang merambah ke kawasan regional dan internasional (dari Israel ke seluruh dunia)? Apakah dipahami adanya kesepakatan awal dan segala peraturan lengkap dengan etika yang dibangun dari proses awal namun diterima dalam kehidupan yang lebih luas?

Dari pertanyaan tadi, kita lantas bertanya juga, kalau demikian agama itu apa? Apakah sama juga dengan produk-roduk kearifan lokal, manusia sudah ada lebih dahulu baru kemudian tercipta pandangan-pandangan filosofis yang mengikutinya sejalan dengan perkembangan manusia dan daya ciptanya, dan kemudian terbentuklah agama? Jika demikian maka agama merupakan buah dari proses pembudayaan manusia.

Jika kita bicara tentang Tuhan, bukankah itu berarti bahwa pikiran kita sudah menempatkan agama lebih dahulu, lantas bagaimana kita mengerti hal hidup manusia jika sudah didahului pula bahwa agama merupakan produk dari proses pembudayaan manusia?

Jika kita berani melepaskan diri dari “kungkungan” pemikiran agama, maka mari kita melihat sosok Yesus dari Nazaret. Apakah Yesus produk agama? Yesus merupakan fakta historis, Ia ada dalam sejarah, Ia lahir, bertumbuh, berproses dengan diri-Nya sampai pada suatu saat Yesus membuat terperanjat orang banyak. Yesus menciptakan hal-hal spektakuler dan besar yang tidak mungkin dunia ilmu pengetahuan sehebat apapun dapat menjelaskannya. Dari air tawar biasa seketika berubah menjadi anggur yang luar biasa tanpa trik sulap, hingga sampai ia menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal selama empat hari. Dan harus diakui dunia ilmu pengetahuan tak akan mampu dapat menganalisa hal yang demikian itu, bahkan Yesus itu pula yang mati karena sulitnya orang menerima Dia, akhirnya Dia dibunuh, dan pada hari ketiga Yesus itu pula dengan luka bekas penganiayaan, bangkit dari kematian-Nya. Tubuh kebangkitan Yesus juga bukan berselimut suasana fiktif dan aroma film horor, akan tetapi sebuah fakta historis. Maksudnya apa yang ada pada Yesus berada dalam kenyataan sejarah. Bukan hasil interpretasi, tapi sungguh-sungguh ada dalam sejarah lengkap dengan tanda buktinya.

Hal Yesus yang demikian itulah yang menolong orang akhirnya bisa meyakini bahwa Yesus dengan segala karya-Nya bukanlah produk dari proses pembudayaan manusia, Yesus bukan produk agama. Jadi jika orang berbicara hal tentang Yesus tidak serta merta adalah hal agama, tetapi seorang tokoh luar biasa yang pernah ada secara fisik dan nyata di dunia ini. Dan melalui Yesus Kristus itulah hal tentang Tuhan Allah menjadi jelas. Yesus sendiri tidak membangun agama, Yesus membangun terciptanya hubungan yang nyata antara Tuhan dengan manusia, dan dinikmatinya hubungan itu dalam keseharian manusia, Yesus membangun realitas baru agar manusia menikmati kasih anugerah Allah.

Kenaikan Yesus, atau terangkatnya Yesus, adalah hal yang sangat menarik untuk direnungkan, Yesus yang setelah bangkit dari kematian-Nya itu, dan setelah berinteraksi dengan para murid-Nya, secara kasat mata naik ke sorga, demikian Lukas dalam Kisah Para Rasul, jika sorga itu istilah teologi, maka Yesus kembali ke dalam kemulian yang transendental yang tidak lagi berada dalam keterbatasan ruang dan waktu. Kenaikan Yesus itu berkesan meninggalkan para murid. Namun memang harus demikian karena sangat tidak mungkin Yesus harus terus menerus secara fisik menjadi manusia, Ia harus kembali dalam kemuliaan-Nya. Hal Yesus naik dan secara kasat mata ia terangkat, adalah cara yang sangat khusus milik Dia. Itulah cara mulia yang tak terlampaui oleh pikiran manusia.

Kini dengan kenaikan-Nya,Yesus menjadi seperti semula dalam pengertian menjadi berada dalam kedaulatan-Nya. Sebelum Ia naik itu, telah menjanjikan akan menyertai manusia, berarti harus dengan cara yang berganti pola penyertaan itu tidak lagi fisik namun dengan roh. Ya! Dengan Roh Kudus. Janji itu pula secara khusus diberikan kepada para murid-Nya dahulu.

Jemaat yang terkasih,

Sedangkan hidup yang kita jalani ini, adalah hidup yang tidak dipahami dalam perspektif agama saja, namun lebih kepada kenyataan bahwa kehidupan ini ternyata tempat beradanya Yesus yang pernah berada di fakta sejarah, dan sekarang melanjutkan karya-Nya dalam Roh Kudus, menjadikan kita sadar bahwa hidup ini harus kita nikmati terselenggara di dalam Yesus Kristus. Maka dibutuhkan relasi atau hubungan yang sesungguhnya antara kita dengan Tuhan. Di dalam kesempatan kita hidup inilah, hubungan itu diberikan dan menjadi kesempatan yang amat tepat bagi kita di dunia ini. Hubungan dengan Tuhan adalah hal yang amat baik untuk dinikmati oleh kita manusia.

Selagi ada waktu yang diberikan Tuhan bagi kita, maka pergunakanlah waktu yang ada untuk menikmati relasi dengan Tuhan Yesus. Jika selama ini kita mengisi waktu hidup lebih banyak diarahkan bagi diri sendiri lengkap dengan segala kepentingan kita sendiri, maka mulailah mengarahkan hidup kita bagi Kristus lengkap dengan kepentingan Kristus.

Jika kita menyadari juga bahwa hidup ini tidak hanya sekedar soal mencari rejeki dan segala sarana hidup, sehingga kehidupan ini bergerak dalam poros pemenuhan kebutuhan, akan tetapi juga soal bagaimana Tuhan mewujudkan karya-Nya bagi kita. Kehidupan manusia lebih banyak diwarnai oleh segala daya upaya manusia untuk memenuhi segala kebutuhan, dan usaha untuk menjaga dan meningkatkan kesejahteraannya, sehingga lebih banyak apa yang dimilikinya itu adalah hasil kerja kerasnya. Hidup menjadi tidak dimaknai sebagai medan karya Tuhan Allah melakukan rencana-Nya. Segala sesuatu yang dilakukannya dalam hubungannya dengan Tuhan, yang terwujud dalam tingkat keagamaan masih bersifat formalitas, apalagi kesadaran bahwa ada realitas baru yang sudah dikerjakan Allah di dalam Kristus. Hidup ini bukan diukur dari orang berusaha memenuhi kebutuhan sarana kehidupannya dan menjadi kenyang, kemudian berproses menjadi tua dan akhirnya mati. Hidup yang diselenggarakan Tuhan tidak menjadi sesederhana itu. Namun hidup yang diselenggarakan Tuhan ini, adalah milik Tuhan, berada di dalam rencana-Nya.

Bisa jadi manusia ada yang salah dalam memahami tentang hidupnya. Sehingga hidup yang dijalaninya menjadi beban berat. Sudah saatnya kita melihat bahwa kehidupan yang berlangsung ini berada di dalam rencana Tuhan dan pemeliharaan-Nya. Keyakinan akan Tuhan Yesus yang memegang kendali kekuasaan atas hidup ini hendaknya menjadi kekuatan baru untuk tetap menikmati harapan. Hidup ini seharusnya berjalan tertuju kepada-Nya. Kita manusia yang hidup perlu memperhatikan hal ini, sehingga orientasi hidup kita bukan pada diri kita namun kepada Dia yang memiliki kehidupan ini. Jika selama ini kita sering menganggap hidup ini seakan harus diselesaikan dengan ukuran-ukuran kebutuhan manusia, kini haruslah mengarahkan perhatian bahwa hidup ini mengupayakan segala hal yang bernilai bagi kemuliaan-Nya. Dengan demikian maka menjalani hidup ini akan lebih bermakna.

Kesempatan untuk mengisi hidup yang bermakna inilah yang sekarang ada dalam keyakinan kita atas kenaikan Tuhan Yesus. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Mengapa demikian? Karena kita telah menikmati hidup dalam jaminan pengharapan baru di dalam Kristus. Maka jalani hidup ini sebaik-baiknya. Seturut dengan kehendak Tuhan, hiduplah penuh rasa syukur, kerjakan tugas pewartaan injil Kerajaan Allah sebagai wujud menggunakan waktu yang ada yang diberikan Tuhan kepada kita. Amin.

v Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah : Lukas 4: 18 – 19

Petunjuk Hidup Baru : Yohanes 4: 35b – 36

Persembahan : II Korintus 8: 13 – 15

v Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan : Kidung Jemaat 222b: 1,2,7

Nyanyian Penyesalan : Kidung Jemaat 305: 1, 2, 3

Nyanyian Persembahan : Kidung Jemaat 288: 1 –

Nyanyian Penutup : Kidung Jemaat 225: 1, 2,3.

Khotbah Jangkep Kamis, 2 Juni 2011

Dinten Riaya Mekradtipun Gusti Yesus (Putih)

Mumpung Taksih wonten wekdal

Waosan I: Lelak. Para Rasul 1: 1-11; Tanggapan: Jabur 93;

Waosan II: Efesus 1: 15-23; Waosan III: Injil Lukas 24: 44-53

Tujuan:

Pasamuwan saged ginakaken wekdal engkang taksih wonten kangge wanuh ugi nyaketaken pribadi kita dhumateng Gusti.

v Khotbah Jangkep.

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti Yesus Kristus,

K

adospundi anggen kita mawas dhateng gesang punika? Punapa kita mawas saking perangan bilih gesang punika anamung ngeli kemawon, awit manungsa sampun samesthinipun ngolah gesangipun kanthi panyambut damel, lan boten dados prakawis punapa kemawon padamelanipun. Punapa kita mawas bilih manungsa punika minangka peranganing jagad, kawontenanipun winates lan mungkasi samudayanipun kanthi pepejah karana sampun sepuh utawi karana sesakit lan kacilakan? Punapa kita mawas bilih gesang punika ing pundi manusia manggen ing jagad kinanthenan ambangun pranatan-pranatan murih karaharjaning gesang? Punapa kita mawas bilih gesang punika kawiwitan saking tata gesang ingkang winengku ing pangudi dhateng kawicaksanan tiyang sawetawis lajeng sumrambah dhateng saindenging jagad (katandhingna kaliyan sumebaripun Injil saking Israel dumugi salumahing bumi)? Wonten katetepan ingkang tinampi sesarengan kanthi sadaya pranatan jangkep kaliyan tata susila ingkang kawangun ing wiwitan mila, nanging tinampi wonten ing gesang ingkang langkung jembar.

Saking pitakenan wau, kita saged nglajengaken pitaken ugi, manawi makaten punapa ta agami punika? Punapa inggih sami kaliyan wohing pangudi dhateng kawicaksanan saking sawetawis tiyang ing wewengkon tartamtu, dene manungsa ingkang sampun gesang langkung rumiyin lajeng tuwuh pamawas ing babagan gesang, lajeng wawasan-wawasan punika sinebat agami? Manawi makaten, agami punika sinebat woh saking kabudayaning manungsa.

Manawi kita ngrembag bab Gusti Allah, rak inggih pangangen-angen tuwin pamanggih kita punika sampun karumiyinan dening seserepaning agami langkung rumiyin, lajeng kadospundi bilih gesang manungsa sampun mapan ing seserepaning agami minangka wohing pambudidayaning manungsa?

Manawi kita wantun medal saking “wewengkon” seserepaning agami, pramila kita saged nekseni Gusti Yesus saking Nazaret. Punapa Gusti Yesus punika mijil saking seserepaning agami? Gusti Yesus punika rawuh wonten ing kasunyataning sujarah gesang punika, kanthi nyata, panjenenganipun miyos, ngrembaka wonten ing sariranipun ngantos satunggaling wekdal adamel kathah tiyang sami cingak. Gusti Yesus nindakaken sakathahing mukjijat ingkang boten saged jinajagan ing nalaripun manungsa dalah ngelmu seserepan ingkang inggil tetep boten saged nggayuh. Saking toya wantah dados anggur ingkang ngedab-edabi, tanpa paekanipun sulap, dumugi pakaryan agung nggesangaken tiyang ingkang sampun pejah dangunipun sekawan dinten. Kedah dipun akeni dening ngelmu lan kawruh ing jaman samangke, bilih sakathahing ngelmunipun manungsa boten saget anjajagi bab ingkang makaten punika, kepara ingkang seda awit panampik saking sawetawis tiyang ing jaman samanten, ngantos kasedanan lajeng wungu ing tigang dintenipun punika kinanthenan tabeting paku salib lan panganiaya, wungu saking sedanipun. Sarira wungunipun inggih nyata sanes kinemulan ing swasana dongeng lan cariyos ingkang asipat ngajrih-ajrihi, ananging sadaya wau mapan ing kasunyatan punika. Tegesipun punapa ingkang wonten ing sariranipun Sang Kristus punika sadaya nyata ing babad sujarah punika. Sadaya ingkang kalampahan wonten ing Sang Kristus sanes minangka wohing pangolahipun manungsa adhedhasar seserepanipun, ananging sayekti mapan ing sujarah jangkep akanthi tanda bukti ingkang katingal.

Bab Gusti Yesus ingkang makaten punika wau ingkang mitulungi manungsa saged pitados bilih Gusti Yesus kanthi sadaya pakaryanipun sanes wohing lampah kabudayaning manungsa. Gusti Yesus sanes wohing agami.

Manawi tiyang ngrembag bab Gusti Yesus boten sanalika pirembagan punika wonten ing wewengkonipun agami, ananging satunggaling priyagung ingkang ngedab-edabi ingkang sinerat ing babad sujarah donya punika. Lumantar panjenenganipun punika bab Gusti Allah lajeng cetha sanget. Gusti Yesus piyambak boten mangun agami, Gusti Yesus mangun sesambetan ingkang nyata antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah tuwin saged karaosaken sesambetan punika ing padintenan gesangipun manungsa. Gusti Yesus mangun kababaring sesambetan anyar manungsa ngaosaken sih kamirahanaipun Allah.

Sumengkanipun Gusti Yesus, dados bab ingkang narik kawigaten kita supados saged karaos-raosaken, Gusti Yesus ingkang wungu saking sedanipun, lan sasampunipun tetunggilan kaliyan para sakabatipun, samangke kanthi kasat mripat panjenenganipun sumengka, makaten Lukas ing paseksinipun wonten ing Lelakone Para Rasul, manawi suwarga punika dados kababaring kasunyatan bilih Gusti Yesus kondur angedhaton lenggah ing kamulyan ingkang luhur tebih nglangkungi pupanap ingkang saged kasumerepan dening manungsa, ingkang boten winengku ing papan lan wekdal. Sumengkanipun Gusti Yesus ing semu nilaraken para sakabatipun, nanging pancen kedah kalampahan makaten jalaran boten badhe kalampahan manawi Gusti tetep teras minangka manungsa, panjenenganipun kedah kondur dhateng kamulyanipun. Bab Gusti Yesus ingkang sumengke akanthi kasat mripat panjenenganipu ndedel minggah manginggil, punika pancen cara ingkang mirungga ingkang namung dados kagunganipun Gusti Yesus piyambak, inggih punika wau cara ingkang minulya inkang boten saged jinajagan dening nalaripun manungsa.

Samangke, lumantar sumengkanipun, Gusti Yesus nglenggahi kawontenan ing suwaunipun, ingkang tegesipun dedalem ing panguwaosipun. Saderengipun sumengka, panjenenganipun prasetya bilih badhe nyarengi gesangipun tiyang pitados, ateges panjenenganipun nggantos cara anggenipun nyarengi, inggih punika kanthi Roh Suci. Prasetya ingkang makaten punika ingknag mirungga kaparingaken dening Gusti Yesus dhateng para sakabatipun kala samanten.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Gesang ingkang kita lampahi punika gesang ingkang boten namung winengku ing tata agami kemawon, ananging wonten ing kasunyatan, dene kasunyatan punika yektinipun dados papan ing pundi kala samanten Gusti Yesus rawuh inggih sinerat ing babad sujarahing manungsa lan taksih nglajengaken pakaryanipun wonten ing Sang Roh Suci, anjalari kita sumerepbilih gesang punika katindakaken wonten ing Sang Kristus. Awit saking punika dipun betahaken sesambetan ingkang nyata antawispun kita kaliyan Gusti Yesus. Ing wekdal kita taksih gesang punika sesambetan wau kacawisaken kanthi endah. Sesambetan kaliyan Gusti dados bab ingkang prayogi sanget kangge karaosaken dening kita manungsa.

Pupung taksih wonten wekdal ingkang kaparingaken dening Gusti kangge kita, pramila kaginakna kangge ngraosaken sesambetan lan tetunggilan kaliyan Gusti. Manawi sadangunipun punika kita ngginakaken wekdal langkung ngener dhateng dhiri pribadi jinangkepan sadaya kapntinganing pribadi, samangke kaeneraken gesang kita kagem Sang Kristus jinangkepan ing sadaya kapentinganipun Sang Kristus.

Manawi kita saged nyumerepi bilih gesang punika boten namung ngupadi rejeki lan sadaya sarana-sarananing gesang, satemah gesang punika namung underanipun bab kabetahan, ananging bab kadospundi Gusti mbabaraken pakaryanipun kangge kita. Gesangipun manungsa langkung asring kawarna dening saday pambudidaya ngupadi kacekapaning sadaya kabetahan kemawon, tuwin njagi lan ngindhakaken kacekapanipun, satemah punapa ingkang dipun darbeni punika dipun aken saking anggenipun meres kringet kemawon. Gesang oten tinanggapan minangka papanipun Gusti Allah nindakaken pakaryanipun. Sadaya tumindaipun manungsa ingkang sesambetan kaliyan gesanging agami nembe winates ing pranatan kemawon, punapa malih saged nyumerepi wontenipun kasunyatanin gesang ingkang kayasa dening Sang Kristus. Gesang punika boten kaetang saking tiyang punika saged nyekapi kabetahanipun lan katuwukan, lajeng dados sepuh, pungkasanipun puput yuswa. Gesang ingkang kacawisaken Gusti boten winates ing prakawis punika. Nanging gesang ingkang kacawisaken Gusti punika kagunganipun Gusti wonten ing rancanganipun.

Saged kalampah bilih manungsa klentu anggenipun mawas dhateng gesangipun. Satemah esang ingkang dipun lampahi dados awrat. Sampun wekdalipun kita kedah mawas bilih gesang punika lumampah ing rancanganipun tuwin pangrimatipun Gusti. Kapitadosan dhumaten Gusti Yesus ingkang mengku panguwaos tumrap gesang punika prayogi dados kekiyatan anyar kangge ngraosaken pangajeng-ajeng. Gesang punika kedahipun ngener dhateng Gusti. Kita manungsa prelu migatosaken ing prakawis punika, satemah punjeraning gesang punika boten dhateng dhiri pribadi ananging dhumateng Gusti Alah ingkang kagungan gesang punika. Manawi sadangunipun punika kita asring nganggep bilih prakawis gesang punika kedah karampungaken ssarana kabetahananin manungsa, samangke kawigatosan kita kedah kaeneraken dhateng bab-bab ingkang wigati kagem kaluhuranipun Gusti. Sarana makaten nglampahi gesang punika wonten maknanipun.

Wekdal kangge gesang ingkang wonten maknanipun punika, ingkang samangke mapan ing kapitadosan awit sumengkanipun Gusti Yesus Kristus, wekdal ingkang boten kepareng tanpa makna, kenging punpa makaten? Jalaran kita sampun ngraosaken kanikmataning gesang wonten ing pangajeng-ajeng anyar ing salebeting Sang Kristus. Awit saking punika katindakna gesang punika ing saprayoginipun. Jumbuh kaliyan karsanipun Gusti, gesang kanthi kebak panuwun, nggelaraken pangundhanging Injil Kratonipun Allah minangka wujud angginakaken wekdal ingkang kaparingaken dening Gusti kangge kita. Amin.

v Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat : Lukas 4: 18 – 19

Pitedah Gesang Enggal : Yokanan 4: 35b – 36

Pisungsung : II Korinta 8: 13 – 15

v Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka : KPK BMGJ 103 : 1, 2, 3

Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 283: 1, 2

Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ

Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 168: 1 --

Kidung Panutup : KPK BMGJ 281: 1, 3, 4

Khotbah Jangkep Minggu, 5 Juni 2011

Minggu Paskah Ke Tujuh (Putih)

BERTEKUN BERSAMA DI DALAM DOA

Bacaan I: Kis. Para Rasul 1:6-14; Tanggapan: Mzm 68:1-10, 32-35;

Bacaan II: I Petrus 4:12-14; 5:6-11; Bacaan III: Injil Yohanes 17:1-11

Tujuan:

Jemaat menyadari pentingnya bertekun di dalam doa bersama,

sebagai wujud komunikasi dan persekutuan yang utuh, baik secara fisik,

moral maupun spiritual.

v Dasar Pemikiran

Kemajuan teknologi informasi terbukti cukup membantu antar individu maupun institusi dalam berkomunikasi. Memang efisiensi dan efektifitas menjadi tuntutan dunia era sekarang ini. Ambil contoh misalnya dengan semakin canggihnya handphone, yang tidak hanya bisa untuk mengirim pesan atau tulisan yang bisa dibaca maupun berkata-kata yang bisa didengar, namun bisa juga melihat orang yang sedang berbicara dengan kita. Namun di tengah kemajuan teknologi informasi ini, ternyata ada yang hilang dari kemajuan komunikasi ini. Anggapnya serasa sah dan cukup terwakili komunikasi jarak jauh, dengan slogan “jauh di mata dekat di hati”. Komunikasi tanpa ”sentuhan” dan kehadiran fisik secara bersama pada ruang dan waktu yang satu, bisa jadi telah kehilangan orisinalitasnya. Bisa-bisa terjadi saling memanipulasi fakta baik fisik maupun batin. Di samping itu di tengah hiruk-pikuk kecanggihan telekomunikasi, hati dan jiwa terasa ”kesepian” karena ketidak-hadiran fisik secara bersama.

Komunikasi langsung dalam komunitas kehidupan bersama religius baik secara verbal maupun spiritual masih relevan untuk dipertahankan. Pun pula dalam hal berdoa bersama. Di tengah derasnya iklan religius maupun permintaan tentang dukungan doa jarak jauh untuk sesuatu hal dari pemirsa tayangan televisi maupun dari pendengar pesawat radio, muncul masalah baru. Tentu menjadi relatif bila dipertanyakan sejauhmana kuasa doa jarak jauh itu. Namun ada yang hilang dari diri individu pendoa dan yang didoakan yakni nihilnya kehadiran bersama. Tidak bisa disalahkan bila semakin banyak pelayanan doa jarak jauh, yang menjadi masalah adalah bila telah terjadi komersialisasi doa. Apakah sudah menjadi suatu pemakluman karena zaman? Tentu bagi komunitas komunal tradisional akan ”menggugat” dengan adanya fenomena yang demikian ini. Tidak menutup kemungkinan masyarakat modern-pun mengalami hal serupa. Kehadiran bersama untuk berdoa lebih dari sekadar menjawab masalah yang didoakan, sebab ada sentuhan fisik, ada dukungan moral, yang akan dapat mengalirkan arus hangatnya pertautan batin dan spiritual.

v Keterangan Tiap Bacaan:

Kisah Para Rasul 1: 6-14 (Saksi Kenaikkan Kristus ke Sorga)

Saat-saat menjelang Tuhan Yesus naik ke sorga, masih juga para murid mempertanyakan kepada-Nya tentang kapan waktunya Tuhan Yesus memulihkan bangsa Israel secara politik dari keterjajahan kekaisaran Romawi. Ternyata Tuhan Yesus tidak berminat menjawab pemulihan bangsa Israel secara politik saja, lebih daripada itu yakni pemulihan atas bangsa-bangsa secara global dari keterjajahan dosa dan penderitaan. Justeru yang perlu dipersiapkan oleh para murid adalah kesiapan untuk diurapi Roh Kudus agar menjadi saksi Kristus. Sebagaimana amanat Tuhan, mereka menjadi saksi dimulai dari wilayah lokal Yerusalem, wilayah regional di Yudea dan Samaria, sampai wilayah mengglobal yakni sampai ke ujung bumi.

Dalam rangka mempersiapkan diri atas urapan Roh Kudus, mereka bertekun berdoa bersama di suatu ruang atas rumah di mana mereka menumpang. Teks dengan jelas menunjuk suatu ruang atas, hendak mengisyaratkan suatu pesan penting. Pesan itu adalah kesungguhan atau ketekunan mereka dalam berdoa bersama. Ruang atas sebagai pilihan untuk mengkhususkan tempat berdoa agar bisa bertekun tanpa terganggu ”dunia luar”. Mereka tidak lagi menentukan sikap sendiri-sendiri sama seperti waktu sebelum Yesus naik ke sorga. Mereka mengedepankan kesehatian dan kebersamaan dalam mempersiapkan diri mendapatkan urapan Roh Kudus maupun penugasan menjadi saksi Tuhan, yakni mengabarkan Injil damai sejahtera.

Mazmur 68:1-10, 32-35 (Berria-rialah di hadapan Tuhan)

Pemazmur mengajak umat berria-ria karena Allah berkenan memulihkan yang menderita. Ia berkenan memberikan pertolongan. Allah mau menjadi Bapa bagi anak yatim, dan Pelindung bagi para janda. Allah datang memberi tempat tinggal bagi orang-orang yang sebatang kara. Allah datang memberi tempat tinggal bagi orang-orang yang sebatang kara. Melepaskan umatNya dari belenggu penjara. Bahkan Allah melimpahkan pemeliharaan atas bumi dengan hujan yang menjadikan tanah yang semula gersang menjadi subur. Itulah sebabnya umat di seluruh muka bumi diajak untuk bersuka cita menyambut kekuasaan Allah yang memulihkan. Setiap bangsa mengakui dan takluk di bawah kekuasaan-Nya, maka bumi makin damai dan tenteram.

I Petrus 4: 12-14; 5:6-11 (Serahkanlah segala Kekuatiranmu)

Rasul Petrus mengajak jemaat agar menerima kesulitan dan penghambatan sebagai ujian. Justeru dengan keadaan yang tidak menyenangkan itu dihayati sebagai bagian menerima penderitaan Kristus. Bilamana ujian yang dilewati dengan bertekun maka akan tiba waktunya jemaat akan bersukacita karena mendapatkan kemuliaan bersama Kristus. Tidak perlu risau menghadapi penghambatan itu, karena Roh Kudus, Roh kemuliaan akan memampukan jemaat bersukacita mengemban derita penghambatan.

Supaya semua hal itu dialami dengan kesetiaan dan ketekunan, maka jemaat diarahkan agar merendahkan diri di bawah Tangan Tuhan yang kuat. Bertekun selalu dalam berdoa dan di dalam persekutuan persaudaraan. Dari ketekunan doa dan persekutuan yang kuat itu, oleh-Nya akan diperlengkapi, diteguhkan, dikuatkan dan dikokohkan. Segala permasalahan dan penderitaan bila dihadapi dengan teguhnya persaudaraan akan mendapatkan kekuatan bahkan penyelesaian yang terbaik dari Tuhan.

Injil Yohanes 17:1-11 (Supaya mereka menjadi Satu)

Setelah Yesus memberikan petuah kepada para murid agar tetap tegar menghadapi penceraiberaian menjelang Ia ditangkap untuk disalibkan (Yoh 16:32-33), Ia berdoa kepada Bapa. Permohonan di hadirat Bapa adalah agar kemuliaan Bapa memancar kepada-Nya. Bahwa kemuliaan Kristus diwujudkan di dalam kesetiaan menjalankan pekerjaan penyelamatan bagi dunia. Kemuliaan Yesus Kristus dipancarkan dengan jalan penyelesaian pekerjaan penebusan dosa dunia.

Doa Yesus dilanjutkan dengan kesaksian bahwa umat telah Ia terima sebagai milik-Nya karena mau mendengarkan firman yang Ia sampaikan. Karena keterharuan atas iman percaya serta kesetiaan umat menjalani firman yang hidup itu, Yesus mengajukan permohonan agar umat yang dipercayakan kepada-Nya, mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan. Dengan iman dan pengharapan yang sama maka umat menjadi satu. Pengakuan akan keesaan Allah ditunjukkan dengan kebersatuan hati dan perjuangan menjalani kehidupan di dunia yang penuh penghambatan. Yesus juga berdoa agar umat menjalani kehidupan di dunia dengan ketekunan membangun iman dan pengharapan yang sama dan yang satu.

Aplikasi di dalam Kotbah

Bertekun bersama di dalam doa membutuhkan prasyarat yakni proses bersekutu dan berdoa bersama tidak kalah pentingnya dari isi bahkan kuasa doa itu sendiri. Kuasa doa justeru dimaknai dari wujud persekutuan yang bertekun berdoa. Persekutuan doa tidak berhenti pada level basa-basi atau hanya formalitas belaka, yakni bahwa semua yang hadir turut menangkupkan kedua telapak tangan, memejamkan mata dan menundukkan kepala, namun tiada pertautan hati dan spiritual. Dalam pada itu ada dua dimensi penting yang mesti dihayati yakni pertama, makna kehadiran fisik dan hati di antara yang hadir di dalam persekutuan. Kedua, ketekunan berdoa bersama menuntut keseriusan olah spiritual.

Bila kita merunut teks bacaan leksionari hari ini kita mendapatkan pelajaran yang amat berharga yang antara lain:

1. Para rasul bertekun bersama berdoa di tempat yang dipersiapkan dengan baik, hal ini menunjukkan kesiapan fisik dan spiritualnya. Hal ini mengingatkan kita bagaimana mungkin kita bisa bertekun berdoa bila tidak mempersiapkan fisik yang segar dan hati yang saling rengkuh.

2. Baiklah juga kita mendapatkan ajakan dari Pemazmur yakni iman dan pengharapan akan kesetiaan dan kemurahan kasih Allah, maka berdoalah di dalam sukacita dan syukur. Peristiwa yang melatarbelakangi kita berdoa di kala sedang dirundung malang dan kesedihan memang tidak mudah bersukacita. Namun yang dimaksudkan adalah berdoalah dalam kepasrahan akan kebaikan Tuhan. Bersukacitalah karena pengharapan yang Ia berikan, bukan karena peristiwa yang melatarbelakangi doa kita.

3. Kita diingatkan oleh Rasul Petrus agar bertekun di dalam doa dan menjaga persaudaraan kasih agar kita dikuatkan di dalam menghadapi pergumulan hidup. Doa tanpa bangunan persekutuan dan persaudaraan yang kokoh, tidak mendatangkan anugerah dari Tuhan.

4. Sama seperti Yesus mendoakan para murid-Nya agar mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan di tengah-tengah penceraiberaian oleh dunia melalui persekutuan dan persaudaraan di antara para murid-Nya. Baiklah kita saling mendukung dalam doa agar setiap warga jemaat terpeliharan iman dan pengharapan di tengah pergumulan hidup yang semakin sulit dan berat. Agar di dalam setiap pergumulan itu di antara kita tidak merasa ”sendirian”, namun ada kekuatan iman karena dukungan doa bersama.

Akhirnya marilah kita bertekun di dalam doa bersama dengan beralaskan persaudaraan kasih, kesiapan hati, dan pengharapan akan kebaikan Tuhan sehingga masukilah doa dengan sukacita, serta berdoalah terus karena pergumulan hidup di dunia ini semakin berat.

v Kotbah Jangkep

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

K

emajuan teknologi informasi terbukti cukup membantu antar individu maupun institusi dalam berkomunikasi. Memang efisiensi dan efektifitas menjadi tuntutan dunia era sekarang ini. Ambil contoh misalnya dengan semakin canggihnya Handphone (HP), yang tidak hanya bisa untuk mengirim pesan atau tulisan yang bisa dibaca maupun berkata-kata yang bisa didengar, namun bisa juga melihat orang yang sedang berbicara dengan kita. Belum lagi HP yang memiliki fasilitas internet untuk mengetahui segala hal. Di tengah kemajuan teknologi informasi ini, ternyata menyisakan ruang kosong dalam berkomunikasi. Ada yang hilang dari kemajuan komunikasi. Dianggap sudah sah dan cukup terwakili komunikasi jarak jauh, dengan slogan “jauh di mata dekat di hati”. Komunikasi tanpa ”sentuhan” dan kehadiran fisik secara bersama pada ruang dan waktu yang satu, bisa kehilangan orisinalitasnya. Bisa-bisa terjadi saling memanipulasi fakta baik fisik maupun batin. Misalnya seorang anak yang kos di luar daerah, ketika ditanya ibunya melalui HP tentang hasil ujiannya, si anak bisa mengatakan hasil prestasi terbaik sementara yang sebenarnya adalah hasilnya jeblok. Atau si ibu meminta lewat komunikasi HP agar anak gadisnya konsentrasi kuliah, dan selalu diiyakan. Namun dalam kenyataannya anak gadisnya justeru konsentrasi dalam berpacaran. Di samping itu di tengah hiruk-pikuk kecanggihan telekomunikasi, hati dan jiwa terasa ”kesepian” karena ketidak-hadiran fisik secara bersama.

Komunikasi langsung dalam komunitas kehidupan bersama religius baik secara verbal maupun spiritual masih relevan untuk dipertahankan. Pula dalam hal berdoa bersama. Di tengah derasnya iklan religius maupun permintaan tentang dukungan doa jarak jauh untuk suatu masalah dari pemirsa tayangan televisi maupun dari pendengar pesawat radio, muncul masalah baru. Tentu menjadi relatif bila dipertanyakan sejauhmana kuasa doa jarak jauh itu. Ada yang hilang dari diri individu pendoa dan yang didoakan yakni nihilnya kehadiran bersama. Belum lagi masalah komersialisasi doa. Apakah sudah menjadi suatu permakluman karena tuntutan zaman? Tentu bagi komunitas komunal tradisional akan ”menggugat” dengan adanya fenomena yang demikian ini. Tidak menutup kemungkinan masyarakat modern-pun mengalami hal serupa. Kehadiran bersama untuk berdoa lebih dari sekadar menjawab masalah yang didoakan, sebab ada sentuhan fisik, dukungan moral, akan dapat mengalirkan arus hangatnya pertautan batin dan spiritual.

Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus,

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul 1:6-14 memaparkan percakapan antara para murid dengan Tuhan Yesus pada saat-saat menjelang Dia naik ke sorga. Para murid mempertanyakan kepada Tuhan Yesus tentang kapan waktunya Dia berkenan memulihkan bangsa Israel secara politik dari keterjajahan kekaisaran Romawi. Ternyata Tuhan Yesus tidak berminat menjawab pemulihan bangsa Israel secara politik saja, namun lebih daripada itu yakni pemulihan atas bangsa-bangsa secara global dari keterjajahan dosa dan penderitaan. Justeru yang perlu dipersiapkan oleh para murid adalah kesiapan untuk diurapi Roh Kudus agar menjadi saksi Kristus. Sebagaimana amanat Tuhan, mereka menjadi saksi dari wilayah lokal Yerusalem, wilayah regional di Yudea dan Samaria, sampai wilayah mengglobal yakni sampai ke ujung bumi.

Dalam rangka mempersiapkan diri atas urapan Roh Kudus, mereka bertekun berdoa bersama di suatu ruang atas rumah di mana mereka menumpang. Teks dengan jelas menunjuk suatu ruang atas, hendak mengisyaratkan suatu pesan penting. Pesan itu adalah kesungguhan atau ketekunan mereka dalam berdoa bersama. Ruang atas sebagai pilihan untuk mengkhususkan tempat berdoa agar bisa bertekun tanpa terganggu ”dunia luar”. Mereka tidak lagi menentukan sikap sendiri-sendiri sama seperti waktu sebelum Yesus naik ke sorga. Mereka bersehati untuk berdoa bersama. Mereka mengedepankan kebersamaan dalam mempersiapkan diri mendapatkan urapan Roh Kudus maupun penugasan menjadi saksi Tuhan, yakni mengabarkan Injil damai sejahtera.

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Dalam Mazmur tanggapan, Pemazmur mengajak umat berria-ria karena Allah berkenan memulihkan yang menderita. Ia berkenan memberikan pertolongan. Allah mau menjadi Bapa bagi anak yatim, dan Pelindung bagi para janda. Allah datang memberi tempat tinggal bagi orang-orang yang sebatang kara. Melepaskan umat-Nya dari belenggu penjara. Bahkan Allah melimpahkan pemeliharaan atas bumi dengan hujan yang menjadikan tanah yang semula gersang menjadi subur. (Mzm 68:1-10). Itulah sebabnya umat di seluruh muka bumi diajak untuk bersuka cita menyambut kekuasaan Allah yang memulihkan. Setiap bangsa mengakui dan takluk di bawah kekuasaan-Nya, maka bumi makin damai dan tenteram. (Mzm 68:32-35).

Kemudian dalam bacaan kedua Rasul Petrus (I Ptr 4: 12-14; 5:6-11) mengajak jemaat agar menerima kesulitan dan penghambatan sebagai ujian. Justeru dengan keadaan yang tidak menyenangkan itu dihayati sebagai bagian menerima penderitaan Kristus. Bilamana ujian yang dilewati dengan bertekun maka akan tiba waktunya jemaat akan bersukacita karena mendapatkan kemuliaan bersama Kristus. Tidak perlu risau menghadapi penghambatan itu, karena Roh Kudus, Roh kemuliaan akan memampukan jemaat bersukacita mengemban derita penghambatan.

Supaya semua hal itu dialami dengan kesetiaan dan ketekunan, maka jemaat diarahkan agar merendahkan diri di bawah Tangan Tuhan yang kuat. Bertekun selalu dalam berdoa dan di dalam persekutuan persaudaraan. Dari ketekunan doa dan persekutuan yang kuat itu, oleh-Nya akan diperlengkapi, diteguhkan, dikuatkan dan dikokohkan. Segala permasalahan dan penderitaan bila dihadapi dengan teguhnya persaudaraan akan mendapatkan kekuatan bahkan penyelesaian yang terbaik dari Tuhan.

Saudara-saudara terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Bacaan Injil Yohanes mengajak kita menelusuri isi hati Yesus yang dituangkan di dalam doa. Setelah Yesus memberikan petuah kepada para murid agar tetap tegar menghadapi penceraiberaian menjelang Ia ditangkap untuk disalibkan (Yoh 16:32-33), Ia berdoa kepada Bapa. Permohonan di hadirat Bapa adalah agar kemuliaan Bapa memancar kepada-Nya. Kemuliaan Kristus diwujudkan di dalam kesetiaan menjalankan pekerjaan penyelamatan bagi dunia. Kemuliaan Bapa dipancarkan di dalam Yesus Kristus dengan jalan penyelesaian pekerjaan penebusan dosa dunia.

Doa Yesus dilanjutkan dengan kesaksian bahwa umat telah Ia terima sebagai milik-Nya karena mau mendengarkan firman yang disampaikan. Karena keterharuan atas iman percaya serta kesetiaan umat menjalani firman yang hidup itu, Yesus mengajukan permohonan agar umat yang dipercayakan kepada-Nya mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan, terlebih pengharapan dalam hal hidup kekal. Dengan iman dan pengharapan yang sama maka umat menjadi satu. Pengakuan akan keesaan Allah ditunjukkan dengan kebersatuan hati dan perjuangan menjalani kehidupan di dunia yang penuh penghambatan. Yesus juga berdoa agar umat menjalani kehidupan di dunia dengan ketekunan membangun iman dan pengharapan yang sama dan satu.

Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus,

Bertekun bersama di dalam doa membutuhkan prasyarat yakni proses bersekutu, dan berdoa tidak kalah pentingnya dari isi, bahkan kuasa doa itu sendiri. Kuasa doa justeru dimaknai dari wujud persekutuan yang bertekun berdoa. Persekutuan doa tidak berhenti pada level basa-basi atau hanya formalitas belaka, yakni bahwa semua yang hadir turut menangkupkan kedua telapak tangan, memejamkan mata dan menundukkan kepala, namun tiada pertautan hati dan spiritual. Dalam pada itu ada dua dimensi penting yang mesti dihayati yakni pertama, makna kehadiran fisik dan hati di antara yang hadir di dalam persekutuan. Kedua, ketekunan berdoa bersama menuntut keseriusan olah spiritual.

Bila kita merunut teks bacaan leksionari hari ini kita mendapatkan pelajaran yang amat berharga yang antara lain:

1. Para rasul bertekun bersama berdoa di tempat yang dipersiapkan dengan baik, hal ini menunjukkan kesiapan fisik dan spiritualnya. Hal ini mengingatkan kita bagaimana mungkin kita bisa bertekun berdoa bila tidak mempersiapkan fisik yang segar dan hati yang saling merengkuh.

2. Baiklah juga kita mendapatkan ajakan dari Pemazmur yakni iman dan pengharapan akan kesetiaan dan kemurahan kasih Allah, maka berdoalah di dalam sukacita dan syukur. Peristiwa yang melatarbelakangi di kala sedang dirundung malang dan kesedihan kita berdoa memang tidak mudah bersukacita. Namun yang dimaksudkan adalah berdoalah dalam kepasrahan akan kebaikan Tuhan. Bersukacitalah karena pengharapan yang Ia berikan, bukan karena peristiwa yang melatarbelakangi doa kita.

3. Kita juga diingatkan oleh Rasul Petrus agar bertekun dalam doa dan menjaga persaudaraan kasih agar kita dikuatkan di dalam menghadapi pergumulan hidup. Doa tanpa bangunan persekutuan dan persaudaraan yang kokoh, tidak mendatangkan anugerah dari Tuhan.

4. Sama seperti Yesus mendoakan para murid-Nya agar mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan di tengah-tengah penceraiberaian oleh dunia melalui persekutuan dan persaudaraan di antara para murid-Nya. Baiklah kita saling mendukung dalam doa agar setiap warga jemaat terpelihara iman dan pengharapan di tengah pergumulan hidup yang semakin sulit dan berat. Agar di dalam setiap pergumulan itu di antara kita tidak merasa ”sendirian”, namun ada kekuatan iman karena dukungan doa bersama.

Akhirnya marilah kita bertekun di dalam doa bersama dengan beralaskan persaudaraan kasih, kesiapan hati, dan pengharapan akan kebaikan Tuhan sehingga masukilah doa dengan sukacita, serta berdoalah terus karena pergumulan hidup di dunia ini semakin berat. Tuhan memberkati. Amin.

v Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah : Efesus 1: 7-10

Petunjuk Hidup Baru : Ibrani 10: 19-25

Nas Persembahan : 2 Tesalonika 3: 11-13

v Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan : KJ 222b: 1,2,7

Nyanyian Penyesalan : KJ 26: 1, 2 dan 4

Nyanyian Kesanggupan : KJ 249: 1-3

Nyanyian Persembahan : KJ 367:1-

Nyanyian Penutup : KJ452: 1, 4, dan 5

Khotbah Jangkep Minggu, 5 Juni 2011

Minggu Paskah Kaping Pitu (Pethak)

TUMEMEN ING PANDONGA SESARENGAN

Bacaan I: Lelak. Para Rasul 1:6-14; Tanggapan: Jabur 68:1-10, 32-35;

Bacaan II: I Petrus 4:12-14; 5:6-11; Bacaan III: Injil Yokanan 17:1-11

Tujuan:

Pasamuwan nyumerepi lan mbabaraken maknaning tumemen ing pandonga sesarengan, minangka wujud sesambetan lan tetunggilan ingkang wetah, sae sacara tata lair, raos pangraos punapadene kasukman.

v Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus,

Kamajenganing gina-piranti wewarta utawi ingkang asring kasebat teknologi informasi, pranyata sampun saestu anggenipun mbiyantu antawisipun pribadi satunggal lan satunggalipun, makaten ugi bebadan satunggal lan satunggalipun, anggenipun sami sesambetan wonten ing papan satunggal kaliyan papan satunggalipun ingkang beda lan tebih. Kasinggihan jaman samangke linangkung ngupados tata sesambetan ingkang sangsaya gampil. Kados ta telpun genggam utawi HP, ingkang sangsaya onjo. HP boten namung saged ngintu seratan ingkang saged kawaos utawi tetembungan ingkang kapireng, ananging ugi tiyang ingkang salebeting wawan wicantenan kalayan kita saking papan ingkang tebih saged kita sumerepi wujudipun saking gambar ingkang jumedhul wonten ing HP wau. Dereng malih manawi HP wau jinangkepan piranti internet, ingkang saged kangge mangertosi sadaya bab. Ewa semanten wonten ing satengah-tengahipun kamajengan gina piranti wewarta punika wau, pranyata wonten bab ingkang ical salebeting sambet-wicantenan. Kabetahan sesambetan ingkang saking papan tebih kaangep sampun cekap kalayan wontenipun pocapan: tebih ing paningal ananging celak ing ati, utawi jauh di mata dekat di hati. Wawan sesambetan ingkang tanpa wonten srawung saranggul ing papan lan wekdal ingkang satunggal lan sami, saged andadosaken kecalan perangan ingkang wigati. Malah-malah saged apus-krama sae tata lair punapa batinipun. Umpaminipun wonten conto makaten: satunggalipun lare mudha ingkang nembe kuliah wonten njawi tlatah nalika dipun dangu dening ibunipun lumantar HP kados pundi menggah asiling ujianipun, lare wau saged kemawon ngaturaken asilipun sae sanget kamangka saged kemawon asilipun awon sanget. Utawi ibunipun dhawuhi putrinipun lumantar HP supados temen anggenipun kuliah, lan sampun temtu inggih dipun sangggemi. Eman ing kasunyatanipun putrinipun malah langkung tumemen anggenipun pacaran. Wonten ing sisih sanesipun kamajengan gina-piranti wewarta wau, anjalari manah lan jiwa ngraosaken sepa lan sepi awit saged sesambetan ananging boten saged pepanggihan aben-ajeng.

Wawan-wicanten sacara langsung wonten gesang pasamuwan sae sacara salebeting pocapan limrah makaten ugi wonten tata kasukman taksih perlu dipun lajengaken utawi malah dipun indhakaken. Makaten ugi ing bab dedonga sesarengan. Inggih wonten ing kahanan ingkang sangsaya kathah nawekaken babagan tata kasukman punapadene panyuwunan pandonga lumantar pesawat televisi lan radio, njedhul prakawis enggal. Sampun temtu manawi dipun tangletaken menggah dayaning pandonga saking papan tebih utawi jarak jauh, lajeng beda-beda panampinipun. Namung kemawon wonten ingkang ical saking cara pandonga jarak jauh punika, inggih sudanipun dhiri ingkang tanpa pepanggihan sacara langsung. Dereng malih manawi sampun reraosan wontenipun kalampahaning pandonga kinanthen panyuwun bebana utawi wontenipun sesadeyan jasaning donga (Indonesia: komersialisasi doa). Punapa bab punika inggih sampun kaanggep limrah kemawon? Sampun temtu pasamuwan ingkang taksih nengenaken sesambetan sacara langsung badhe ”nggigat” wontenipun kasunyatan makaten. Saged ugi warganing pasamuwan ingkang wonten ing kitha ageng, inggih ingkang sampun tuwuk kamajenganing gesang, inggih boten narimakaken. Manunggil sawantah, sajiwa lan tunggil raos salebeting pandonga sesarengan linangkung saged mangsuli, sami kalayan kasembadaning pandonga.

Pasamuwanipun Gusti Yesus ingkang kinasih,

Waosan sabda ingkang sepisanan inggih ingkang kapethik saking Para Rasul 1:6-14 njlentrehaken menggah wawan-reraosan antawisipun Gusti Yesus kaliyan para rasulipun, inggih wekdal Panjenenganipun badhe sumengka dhateng swarga. Para sakabat munjuk pitakenan bab benjang punapa Gusti Yesus kepareng mangsulaken karajan Israel sacara tata paprentahan, uwal saking pangawulan negari Rum. Pranyata Gusti Yesus boten namung mangsuli bab pulihing karajan Israel, ananging langkung saking punika inggih bab pulihipun bangsa-bangsa sawetahipun saking pangawulaning dosa lan kasangsaran. Awit saking sedya punika ingkang perlu dipun cawisaken para rasul inggih punika nampeni tedhakipun Roh Suci minangka kasekten anggenipun sami dados seksinipun Gusti. Wondene tebaning paseksen wiwit saking tlatah Yerusalem, lajeng sangsaya wiyar dumugi tlatah Yudea lan Samaria, ngantos ing pungkasaning bumi, inggih sumebar ngantos waradin sadonya.

Kangge nyawisaken katedhakan Roh Suci, para rasul sami tumemen manunggil ing pandonga wonten ing kamar nginggil ing griya pondhokan. Waosan sabda ngyektosaken bab kamar nginggil temtu ngemu bab ingkang wigati. Ndedonga sesarengan wonten ing kamar nginggil sedya mratelakaken ketemenan anggenipun para rasul dedonga sesarengan lan boten kaganggu dening karameyanning njawi. Pranyata manunggil ing pandonga punika satunggaling ewah-ewahan ingkang wigati ingkang katindakaken dening para rasul. Beda kaliyan rikala Gusti Yesus dereng sumengka dhateng swarga sasampunipun Panjenenganipun wungu saking antawisipun tiyang pejah, para rasul sami nemtokaken sikep piyambak-piyambak. Sapunika para rasul sami nengenaken patunggilan lan sesarengan, salebeting nyawisaken tumedhakipun Roh Suci saha dhawuh martosaken Injil tentrem rahayu.

Para sadherek ingkang kinasih wonten ing Yesus Kristus,

Wonten ing Jabur waosan kala wau, Juru mazmur ngajak umatipun Gusti supados sumyak bingah karana Gusti Allah kepareng mulihaken kawontenan ingkang sami saking panandhang. Panjenenganipun karsa paring pitulungan. Gusti Allah kepareng dados Bapa tumraping lare lola, dados pangayom tumraping para randha. Panjenenganipun inggih rawuh paring papan pangauban kangge tiyang-tiyang tebih saking sanak sadherek. Wah malih tiyang tawanan inggih kaluwaraken. Gusti Allah inggih kepareng ngrimati bumi kalayan toya jawah ingkang anjalari siti lajeng subur. (Jabur 68:1-10). Awit saking punika umat sadaya ing bumi punika dipun ajak supados ngunjukaken panuwun sokur nambut panguwaosipun Gusti ingkang mulihaken. Saben bangsa ingkang ngakeni lan sujud wonten ing sangandhaping panguwaosipun anjalari bumi sangsaya tentrem lan rahayu (Jabur 68:32-35).

Salajengipun wonten ing waosan kaping kalih, Rasul Petrus (I Ptr 4:12-14; 5:6-11) ngatag pasamuwanipun Gusti supados nampeni kangelan lan pepalang minangka pandadaran. Awit pranyata kawontenan ingkang boten ngremenaken punika wau dipun tanggapi minangka perangan nyawiji ing kasengsaranipun Sang Kristus. Manawi pendadaran dipun adhepi kanthi tumemen badhe dumugi ing wekdalipun pasamuwan punika saged munjuk pamuji sokur karana nampeni kamulyan sesarengan kaliyan Sang Kristus. Awit saking punika boten prelu goreh nalika ngadhepi pepalang, sabab Sang Roh Suci inggih Rohing Kamulyan badhe nyagedaken pasamuwanipun nyanggi momotaning sangsara.

Supados sadaya momotan punika dipun tampi kanthi kasetyan lan katemenan, pramila pasamuwan dipun dunungaken supados nungkul ing sangandhaping astanipun Gusti ingkang kiyat. Tumemen ing pandonga lan wonten ing patunggilan pasedherekan. Saking ketemenaning pandonga lan kiyating patunggilan, Panjenenganipun badhe mraboti, nyantosakaken lan ngekahaken. Sadaya prakawis lan kasengsaran manawi dipun adhepi kanthi kekahing patunggilan badhe ngangsalaken kekiyatan kepara karampungan ingkang linangkung sae saking Gusti Allah.

Para sadherek ingkang kinasih wontening Gusti Yesus Kristus,

Waosan Injil Yokanan ngatag kula lan panjenengan sumerep dhateng karsanipun Gusti Yesus ingkang kawiyos ing pandonganipun. Sasampunipun Gusti Yesus maringi dhawuh dhateng para murid supados tetep santosa ngadhepi paeka ingkang badhe mbuyaraken inggih wekdal ndhungkap Panjenenganipun kacepeng lan kasalib (Yok 16: 32-33), Panjenenganipun ngunjukaken pandonga wonten ngarsanipun Sang Rama. Panyuwun ing pandonga inggih punika supados kamulyanipun Sang Rama kawujud wonten Panjenenganipun nalika nindakaken pakaryan kawilujengan tumrap jagad. Kamulyanipun Sang Rama kawujud wonten ing Sang Kristus salebeting ngrampungaken pakaryan panebusing dosa.

Pandonganipun Gusti Yesus kalajengaken ing pasekseninpun umat, manawi umat punika sampun katampi dados pasamuwan kagunganipun awit sami purun mirengaken sabda ingkang kawedharaken. Saking raos trenyuhipun dhateng pasamuwan anggenipun sami tatag ing iman lan kasetyanipun, Panjenenganipun nyuwun dhumateng Sang Rama supados rumeksa ing kapitadosan lan pangajeng-ajeng tumrap gesang langgeng. Kanthi kapitadosan lan pangajeng-ajeng punika, pasamuwan katunggilaken. Kapitadosan bab Gusti Allah ingkang mahatunggal kawujudaken kanthi patunggilaning manah dan tumandang damel ngadhepi kawontenaning gesang ing donya ingkang kebak ing pepalang. Gusti Yesus inggih ndedonga supados pasamuwan kuwagang nindakaken gesang ing donya kanthi tumemen mbangun kapitadosan lan pangajeng-ajeng ingkang sami punika.

Pasamuwanipun Gusti Yesus ingkang kinasih,

Tumemen sesarengan wonten ing pandonga mbetahaken syarat inggih punika mujudaken tetunggilan, lan dedonga sesarengan punika dipun tanggapi pinangka bab ingkang wigati, inggih sami wigatinipun kaliyan isining pandonga punapa dene kasembadanipun. Dayaning pandonga kepara mawujud wonten ing tetunggilan ingkang tumemen dedonga wau. Tetunggilan ing pandonga boten cekap kawujudaken kanthi kempal sesarengan, lajeng lumebet ing swasana pandonga, sami ngapurancang asta, ngeremaken mripat saha ndhingklukaken sirahipun. Manawi boten wonten sesambatening batos lan raos pitados temtu namung minangka bukti ngurmati tiyang dedonga. Kanthi makaten kalih bab ingkang penting salebeting manunggil ing pandonga sesarengan inggih punika: sepisan, teges lan paedahipun dhatengipun dhiri lan manah salebeting manunggil ing pandonga, manah ingkang golong gilig kaliyan ujubing donga, kaping kalih, tumemen ing pandonga sesarengan mbetahaken katemenaning olah batos kanthi pitados.

Manawi kita nyemak suraosing sabda ing dinten punika, kita badhe nampeni piwulang ingkang sae, antawisipun inggih punika:

1. Para Rasul tumemen dedonga sesarengan wonten ing papan ingkang sampun kacawisaken kanthi sae, bab punika nedahaken cumawisipun dhiri lan batosipun. Punika sayekti ngengetaken dhumateng kita supados tumemen ing pandonga kanthi nyawisaken papan ing tumata sae, badan ingkang seger lan manah ingkang samidene kebak ing pangrengkuh.

2. Juru Masmur memulang kita supados anggadhahi kapitadosan lan pangajeng-ajeng dhumateng kasetyanipun Gusti Allah. Kanthi anggadhahi kapitadosan lan pangajeng-ajeng ingkang makaten, kita mesthi dedonga kanthi kebak panuwun lan kabingahan. Liripun inggih punika kabingahan awit pangajeng-ajeng kita dados prasetyanipun Gusti.

3. Kita dipun engetaken dening Rasul Petrus supados tumemen ing pandonga lan njagi pasedherekan sih-katresnan, supados ngangsalaken kekiyatan salebeting ngadhepi prakawising gesang. Pandonga tanpa kabangun kanthi tetunggilan lan pasedherekan ingkang kekah, boten badhe ndhatengaken sih-rahmat lan berkah.

4. Kadosdene Gusti Yesus ingkang ndongaken para muridipun supados nampeni pangrimating kapitadosan lan pangajeng-ajeng sanadyan badhe ngadhepi kawontenan ingkang ambyar, sageda kanthi nengenaken tetunggilan lan pasedherekan, prayoginipun kita sami mujudaken tuladha punika. Kita sami nyengkuyung ing pandonga supados saben warganing pasamuwan karimat ing kapitadosan lan pangajeng-ajengipun wonten satengah-tengah prakawising gesangipun ing sangsaya angel lan awrat punika. Supados wontening kaprihatosanipun boten rumaos piyambakan, ananging wonten daya kekiyatan kapitadosan karana panyengkuyunging pandonga sesarengan.

Wusana swawi kita tumemen ing pandonga sesarengan alandhesan sih pasedherekan, pacawisaning manah, pangajeng-ajeng dhumateng kasaenaning Gusti ingkang gumathok temahan kuwagang ngunjukaken panuwun lan kabingahan, sarta tansah dedonga karana prakawising gesang ing donya punika sangsaya awrat. Gusti mberkahi. Amin.

v Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat : Efesus 1:7-10

Pitedah Gesang Anyar : Ibrani 10:19-25

Pangatag Pisungsung : 2 Tesalonika 3:11-13

v Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka : KPK BMGJ 280:1-3

Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 43: 1-3

Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 37: 1-2, 4

Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 188:1-

Kidung Panutup : KPK BMGJ : 155:1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 12 Juni 2011

Minggu Hari Raya Pentakosta (Merah)

ROH KUDUS MENGARUNIAKAN

CARA BARU DALAM BERKOMUNIKASI

Bacaan I : Bilangan 11:24-30; Tanggapan: Mazmur 104:24-34;

Bacaan II: Kisah Para Rasul 2:1-21; Bacaan III: Injil Yohanes 7:37-39

v Dasar Pemikiran:

Allah mengaruniakan Roh Kudus dalam Pentakosta. Banyak orang mengaitkan Roh Kudus dengan bahasa Roh yang hanya dapat dipahami orang-orang tertentu dan sering membuat orang yang memilikinya merasa lebih dari yang lain. Akibatnya orang yang merasa menerima Roh Kudus justru bersikap eksklusif.

Roh Kudus adalah Roh yang diberikan Allah untuk melengkapi hamba-hamba-Nya mewartakan Injil kepada semua bangsa. Maka sesungguhnya Roh Kudus adalah Roh yang memampukan manusia untuk berkomunikasi secara baru dan dan dapat dipahami semua orang, sehingga semua bangsa mengalami keselamatan.

v Keterangan Tiap Bacaan:

Bilangan 11:24-30 (Roh Allah Memampukan Bekerja)

TUHAN berkenan memakai manusia sebagai alat-Nya. TUHAN akan memperlengkapi hamba-Nya dengan apa yang diperlukan untuk menjalankan tugas. Tujuhpuluh orang yang telah dipilih oleh Musa untuk menolongNya memimpin bangsa Israel, diperlengkapi TUHAN dengan memberikan sebagian Roh (BIS: Kuasa) yang ada pada diri Musa,. Mereka mengalami kepenuhan seperti para Nabi, tanpa kecuali dua orang yang tinggal di perkemahan. Kuasa Roh memang tidak dapat dibatasi.

Roh juga memampukan Musa untuk tidak berlaku egois dan memusatkan segala sesuatu pada dirinya. Tidak apa Eldad dan Medad mengalami kepenuhan, sebab Musa justru berharap TUHAN memberikan Roh-Nya kepada seluruh bangsa sehingga mereka semua menjadi Nabi.

Mazmur 104:24-34 (Roh Allah Memperbaharui Muka Bumi)

Pemazmur memuji TUHAN karena perbuatan-Nya yang banyak dan luar biasa. Pemazmur merincinya dalam tiga hal: Pertama, menciptakan semesta dengan kebijaksanan-Nya (24-26). Kedua, TUHAN memelihara ciptaanNya dengan memberinya makan (27-28). Ketiga, TUHAN yang memberi hidup berkuasa pula untuk mengambil kembali hidup ciptaan-Nya (29).

Istimewanya, Pemazmur menyebut ”Apabila Engkau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui bumi. Karya TUHAN mencipta dan membaharui bumi dikerjakan di dalam Roh-Nya.

Kisah Rasul 2:1-21 (Dengan Roh Kudus)

Banyak kalangan menyangka bahwa dalam peristiwa Pentakosta, oleh kuasa Roh Kudus, para Rasul berbicara dengan bahasa roh (glosalli) yang hanya dimengerti orang-orang tertentu. Kenyataannya teks Kitab Suci menyebut mereka berbicara dengan bahasa-bahasa lain, yaitu bahasa-bahasa para peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia, seperti Partia, Media, Elam dan lain-lain.

Dalam Pentakosta Roh Kudus justru menghargai bahasa setiap orang dan berbicara kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri. Tidak ada satu bahasa yang suci, dan Roh Kudus mengaruniakan para Rasul kemampuan menjadi komunikator yang baik.

Injil Yohanes 7:37-39 (Aliran-aliran Air Hidup adalah Roh Kudus)

Pada puncak Hari Raya Pondok Daun, saat imam melakukan ritual menuang air dari kendi emas ke atas Mezbah, Tuhan Yesus menyerukan Sabda: ”Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barang siapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” Sabda yang mengejutkan dalam momentum dramatis yang amat pas, oleh karena itu menarik perhatian.

Injil Yohanes menerangkan bahwa yang dimaksud aliran air hidup adalah Roh Kudus yang akan diterima oleh orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

RENUNGAN ATAS BACAAN

Allah berkenan mempergunakan manusia menjadi alat-Nya untuk membangun Kerajaan Allah. Sebagai hamba-Nya manusia diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus.

Roh Kudus menjadikan manusia mampu mengkomunikasikan berita Injil Kerajaan Allah kepada sesamanya dari berbagai bangsa. Roh Kudus memampukan manusia berbagi dan menghargai keberbagaian bahasa, sehingga dalam pewartaan Injil Kerajaan Allah setiap orang disapa dalam keunikan bahasanya sendiri.

HARMONISASI BACAAN LEKSIONARI

Roh Kudus diberikan Allah kepada manusia untuk menjadi penolong dalam melayani Allah. Karya Roh kudus tidak dapat dibatasi oleh batas-batas tempat. Roh Kudus memampukan manusia mengkomunikasikan Injil Kerajaan Allah sehingga manusia dari berbagai bahasa dan bangsa mengenal Injil. Dengan demikian bumi akan mengalami pembaruan sebagai ciptaan baru.

POKOK DAN ARAH PEWARTAAN

Pemahaman yang benar mengenai karya Roh Kudus mendorong setiap orang percaya untuk giat berbagi dengan mengkomunikasikan Injil kepada setiap orang menurut ’bahasa’ mereka, sehingga mereka menerima berita Injil. Dengan demikian pembaruan bumi oleh Roh Kudus berlangsung.

v KHOTBAH JANGKEP

D

alam sebuah acara pembinaan di gereja, seorang narasumber berbicara penuh semangat. Ia berusaha merangkai kata setinggi mungkin dan menambahkan banyak istilah-istilah asing. Pikirnya semakin banyak kata asing dan semakin sulit rumusan pemikirannya maka ia akan tampak semakin pandai dan berkelas. Ia merasa puas dengan yang telah dilakukannya, apalagi pada akhir acara tidak ada seorangpun yang membantah yang telah disampaikannya atau bertanya. Sayangnya para pendengarnya diam tidak membantah dan bertanya bukan karena telah paham, melainkan karena sama sekali tidak mengerti apa yang telah didengarnya. Sayang!

Jemaat terkasih, Hari ini kita merayakan Pentakosta, hari ke lima puluh setelah Paskah, saat Tuhan mengaruniakan Roh Kudus. Pada waktu itu murid-murid Tuhan Yesus berada di suatu tempat di Yerusalem sesuai perintah Tuhan Yesus. Tiba-tiba jilatan lidah-lidah api hinggap atas mereka dan mereka mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa, seperti yang diberitakan Roh Kudus kepada mereka. Sayangnya peristiwa kepenuhan Roh Kudus ini disalahpahami oleh banyak orang. Pada waktu itu mereka dituduh sebagai orang yang sedang mabuk anggur manis. Syukurlah ada Petrus yang akhirnya dapat memberikan penjelasan bahwa yang terjadi adalah kepenuhan Roh Kudus sebagaimana telah dinubuatkan dalam Kitab Suci.

Pada masa sekarangpun banyak orang keliru memahami karya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta. Sebabnya karena mereka secara sempit menekankan karunia Roh Kudus hanya pada karunia bahasa Roh, sehingga pembacaan teks yang kurang hati-hati menyebabkan anggapan bahwa bahasa-bahasa lain yang dimaksud dalam perikope ini adalah bahasa Roh. Ya, bahasa Roh yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Karunia bahasa yang sering membuat penerimanya bersikap eklusif karena merasa beda dan lebih dari yang lainnya.

Bertolak belakang dengan sikap eklusif, karya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta justru membuat orang bersikap inklusif. Para Rasul berkata-kata kepada para peziarah yang ada di Yerusalem waktu itu dengan mempergunakan bahasa-bahasa daerah asal mereka, yaitu Partia, Media, Elam dsb. Sekarang tidak ada lagi satu bahasa yang dianggap suci dan menjadi satu-satunya bahasa Tuhan. Mereka disapa dalam keunikan mereka masing-masing. Buahnya sungguh luar biasa, dilengkapi dengan penjelasan dan khotbah Petrus, pada waktu itu ada kira-kira 3000 orang yang percaya kepada Kristus dan dibaptiskan (Kis 2:41).

Tidak mungkin karya Roh Kudus justru membuat orang percaya menjadi eklusif. Oleh karena itu bila ada orang yang mengaku telah menerima karunia Roh Kudus tetapi kemudian merasa diri sebagai golongan khusus yang elite dan lebih dari yang lain, maka pastilah telah terjadi kesesatan. Injil Yohanes mengisahkan bahwa ketika Tuhan Yesus menyerukan mengenai Air Hidup, maka setiap orang yang meminumnya dari Tuhan Yesus, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Secara eksplisit dijelaskan bahwa Air Hidup adalah Roh Kudus. Air atau Roh Kudus tersebut tidak menggenang dan hanya tinggal dalam hati sebagai milik pribadi, melainkan mengalir keluar. Maknanya jelas; karya Roh Kudus tidak mungkin eklusif, melainkan inklusif. Mendorong setiap orang yang telah menerimanya di dalam Tuhan Yesus untuk berbagi kepada orang lain.

Jauh sebelumnya dalam Perjanjian Lama, dikisahkan Musa merasa terlalu berat sendirian memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun, oleh karena itu dengan perkenan Tuhan dikumpulkanlah 70 orang tua-tua Israel untuk membantunya. Tuhan mengambil sebagian Roh (BIS:kuasa) yang telah diberikan pada Musa, kemudian memberikan kepada tua-tua Israel. Hasilnya mereka mengalami kepenuhan seperti para Nabi, meskipun hanya sebentar. Juga dua orang tua-tua yang tetap tinggal dalam kemah mengalami kepenuhan. Hal ini mendorong Yosua hamba Musa untuk menganjurkan Musa mencegah kedua orang itu. Oleh karya Roh, Musa menolak mencegah, sebab sejatinya Musa menginginkan seluruh bangsa mengalami kepenuhan Roh Tuhan.

Kisah ini semakin menegaskan karya Roh Kudus yang tidak dapat dibatasi menjadi milik eklusif pribadi atau sekelompok orang, sebab Roh Kudus meretas tembok-tembok pemisah, menolong manusia berkomunikasi dengan cara baru agar berita Injil Kerajaan Allah dapat menjangkau seluruh bangsa.

Karya Roh Kudus yang memperlengkapi semakin banyak orang yang menerima Kristus untuk menerima panggilan menjadi pewarta Injil Kerajaan Allah adalah kebenaran dari seruan pemazmur: Apabila Engkau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui bumi.

Pentakosta memberikan penyadaran bahwa tugas pewartaan Injil Kerajaan Allah bukan hanya tugas seseorang atau kelompok orang saja. Setiap orang yang menerima Kristus diberikan karunia Roh Kudus untuk mengkomunikasikan Injil Kerajaan Allah dengan cara baru. Menyapa setiap orang dalam bahasa, budaya dan keunikan mereka masing-masing, sehingga dalam penghargaan tersebut mereka menerima Kristus dan melaluinya Roh Allah membaharui bumi. Amin.

v Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah : Roma 11:33-36

Petunjuk Hidup Baru : Yakobus 3:13-18

Dasar Persembahan : Mazmur 23:1

v Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan : KJ 232:1-3

Nyanyian Pengakuan : KJ 235:1-3

Nyanyian Kesanggupan : KJ 233:1-3

Nyanyian Persembahan : KJ :24a:1-

Nyanyian Penutup : KJ 237:1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 12 Juni 2011

Dinten Minggu Riaya Pentakosta/Riaya Panen (Merah)

ROH SUCI MARINGAKEN CARA KANGGE MARTOSAKEN INJIL KRATONING ALLAH

Waosan I: Wilangan 11:24-30; Tanggapan: Jabur 104:24-34;

Bacaan II: Lelak. Para Rasul 2:1-21; Bacaan III: Injil Yokanan 7:37-39

v Khotbah Jangkep

I

ng satunggaling acara pembinaan ing greja, Narasumber paring pangandhikan kanthi kebak semangat. Piyambakipun ngrakit ukara-ukara ingkang inggil, saha muwuhi kanthi tembung-tembung manca ingkang awis kepireng. Panganggepipun saya kathah tembung manca lan angel rakitaning basa, piyambakipun saya ketingal pinter lan nggadhahi tataran langkung inggil tinimbang sanesipun. Narasumber punika katingal marem nalika ing pungkasaning acara mboten wonten ingkang atur bantahan utawi miterang katranganipun. Emanipun ingkang sami rawuh mboten atur bantahan utawi miterang sanes awit sampun cetha, nanging kosokwangsulipun malah mboten paham menapa ingkang sampun dipun mirengaken. Eman sanget!

Pasamuwan kinasih, dinten punika kita sami ngriyadinaken Pentakosata, seket dinten sasampunipun Paskah, wekdal Gusti nedhakaken Roh Suci. Rikala semanten para sakabatipun Gusti Yesus saweg ngempal ing satunggaling papan ing kitha Yerusalem, kados ingkang kadhawuhaken Gusti Yesus. Dumadakan wonten ilat-ilatan latu ingkang nyamber para sakabat temah sami kapenuhan ing Roh Suci. Para sakabat wau lajeng sami wicantenan migunakaken werni-werni basa, manut ingkang kadhawuhaken deng Roh Suci. Emanipun kadadosan punika nuwuhaken klenthu pamanggih tumrap tiyang kathah ingkang sami nyipati. Para sakabat dipun dakwa bilah kawontenan punika tuwuh awit sami mabuk anggur manis. Rahayunipun wonten Rasul Petrus ingkang lajeng paring katrangan bilih para sakabat mboten mabuk, nanging kapenuhan ing Roh Suci, kados ingkang sampun kaweca ing Kitab Suci.

Ing jaman samangke klentu panampi bab pakaryaning Sang Roh Suci inggih asring kalampah. Sababipun wonten saperangan golongan ingkang namung nengenaken bab peparing bahasa Roh, mila nalika anggenipun maos Kitab Suci kirang teliti lajeng mastani bilih werni-werni basa ingkang dipun wicantenaken dening para sakabat punika basa Roh. Inggih, basa Roh ingkang maknanipun namung dipun mangertosi dening sawetawis tiyang. Peparing basa Roh ingkang asring damel tiyang ingkang nampi nggadhahi patrap rumaos onjo, mila mboten purun srawung kaliyan sanesipun ingkang limrah.

Lelawanan kaliyan patrap mboten purun srawung (Eklusif) Pakaryanipun Roh Suci ing Pentakosta malah ndadosaken manungsa nggadhahi watak tinarbuka (inklusif). Liripun para sakabat ingkang kapenuhan ing Roh Suci sami wicantenan dhateng para Peziarah rikala semanten migunakaken basa saking daerah asalipun para peziarah punika, inggih punika basa Partia, Media, Elam Lsp. Samangke mboten wonten setunggal basa ingkang kaanggep suci lan minangka basanipun Allah. Sedaya nampeni prasapa manut kawontenan lan keunikanipun piyambak-piyambak. Wohipun elok sanget, jinangkepan ing katrangan lan khotbahipun Rasul Petrus, rikala semanten lajeng wonten tiyang ingkang gunggungipun kirang langkung 3000 pitados dhateng sang Kristus saha kabaptis (Para Rasul 2:41).

Mboten pinanggih nalar menawi pakaryanipun Roh Suci kok ndadosaken manungsa gumungkung lan mboten purung srawung. Mila menawi wonten tiyang ngaken bilih sampun nampeni kapenuhan ing Roh Suci mangka cak-cakaning gesangipun kados makaten, mesthi tiyang punika sampun mblasar. Ing Injil Yokanan dipun cariyosaken bilih Gusti Yesus paring pangandhika bab toyanig gesang. Sok sintena ingkang ngombe toya punika, saking manahipun badhe tuwuh tuk, ilining toya gesang. Salajengipun kaparingan katrangan bilih toya gesang punika Sang Roh Suci ingkang badhe kaparingaken. Toya gesang utawi Roh Suci punika mboten mampet utawi namung tetep ing manah dados milik pribadi, nanging dados tuk lan mili. Maknanipun cetha pakaryanipun sang Roh Suci punika mboten ndadosaken tiyang eklusif nanging inklusif. Mbereg tiyang ingkang sampun nampeni kapenuhan ing sang Kristus berbagi dhateng tiyang sanesipun. Mbiwarakaken ingkang sampun karaosaken.

Tebih saderengipun, ing jaman Prajanjian Lami, dipun cariyosaken Nabi Musa rumaos kawratan mimpin bangsa Israel piyambakan ing ara-ara samun. Pramila awit keparengipun Gusti Allah lajeng dipun kempalaken para pinisepuh ingkang cacahipun 70 tiyang kangge mbiyantoni Nabi Musa. Gusti Allah lajeng mundut saperangan Roh (BIS:Kuasa) ingkang sampun dipun paringaken kagem Nabi Musa, lajeng kaparingaken dhateng para pinisepuh wau. Sanalika lajeng sami kapenuhan lan wicantenan kados dene para Nabi, sanajan namung sakedap. Kalebet pinisepuh cacah kalih ingkang kantun ing pondhok. Lelampahan punika mbereg Yosua abdinipun nabi Musa supados nyegah pinisipuh kalih punika. Awit pakaryaning Roh, Nabi Musa duwa pamrayoginipun Yosua. Saestunipun Nabi Musa malah ngersakaken tiyang Israel sabangsa sami kapenuhan ing Rohipun Gusti.

Lelampahan punika nandhesaken bilih pakaryaning Roh Suci mboten saget dipun watesi minangka gadhahanipun sawetawis tiyang, awit pakaryanipun Roh Suci sampun ngrubuhaken singet-singet ingkang misahaken manungsa, mitulungi manungsa kangge mbangun sesambetan (berkomunikasi) kanthi cara ingkang anyar supados pawartos bab Injil Kratoning Allah saget katampi dening sadaya bangsa.

Pakaryaning Sang Roh Suci ingkang mraboti saya kathah tiyang ingkang sampun nampi Sang Kristus kangge nampeni timbalan minangka duta martosaken Injil Kratoning Allah dados wujud kaleresan panguwuhipun Sang juru Mazmur: Menawi Padhuka maringaken Roh Padhuka, lajeng sami tumitah, saha lumahing bumi Padhuka dadosaken enggal.

Pentakosta ndadosaken kita nglengganani bilih ayahan minangka duta martosaken Injil mboten namung dados kuwajibaning sawetawis tiyang. Saben tiyang ingkang nampeni Sang Kristus kautus martosaken injil kratoning Allah kanthi cara anyar. Kawartosaken kanthi ngaosi basa, budaya lan keunikanipun piyambak-piyambak, temah tiyang-tiyang wau rumaos dipun aosi, saha kanthi makaten sami purun nampeni sang Kristus, temah kanthi cara makaten Rohipun Allah nganyaraken bumi. Amin.

v Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat : Roma 11:33-36

Pitedah Gesang Enggal : Yakobus 3:13-18

Pangatag Pisungsung : Mazmur 23:1

v Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pamuji : KPK-BMGJ 285:1-3

Kidung Panelangsa : KPK-BMGJ 295:1,4

Kidung Kasanggeman : KPK-BMGJ 294:1,2

Kidung Pisungsung : KPK-BMGJ 296:1-

Kidung Panutup : KPK-BMGJ 287:1,3

Khotbah Jangkep Minggu, 19 Juni 2011

Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus (Minggu Trinitas)

Ajarlah dan baptislah dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus

Bacaan I: Kejadian 1:1-2:4a; Tanggapan: Mazmur 8;

Bacaan II: II Korintus 13: 11-13; Bacaan Injil: Matius 28:16-20

Tujuan :

Dengan memahami semua ciptaan Allah adalah baik, semua ciptaan dipanggil untuk saling menolong dalam membawa kembali pada tujuan semula atas penciptaan. Dengan memberitakan kabar sukacita, semua umat Tuhan diharapkan untuk ambil bagian dalam memulihkan keutuhan ciptaanNya.

v Dasar pemikiran :

Banyak orang menggunakan standar nilai kebenaran yang dimilikinya untuk dipaksakan kepada orang lain. Nilai yang dianggapnya baik dan benar digunakan untuk mendominasi orang lain, sehingga menimbulkan tekanan bagi orang yang tidak memiliki kekuatan secara structural di dalam masyarakat atau komunitas apapun. Kehadiran Tuhan Yesus adalah untuk mengabarkan berita sukacita, pembebasan bagi yang tertindas, siapapun, bagi semua ciptaannya untuk hidup dalam pengampunan dan kemerdekaan, menjadi diri mereka sendiri sepeti maksud dri awal penciptaan. Umat dipanggil untuk ambil bagian dalam memebebaskan semua mahluk yang tertindas dengan mengkritisi nilai nilai kebenarannya yang ada. Sehingga kehadiran Kabar Sukacita adalah benar benar menyukacitakan semua orang.

v Keterangan Tiap Bacaan

Kejadian 1:1-2:4a (Karya Sagung dari Roh Allah)

Kitab kejadian ini dimulai dengan kisah penciptaan Allah sebagai Pelaku utama, dan penciptaan sebagai hasil tindakan Allah yang kreatif. Penciptaan terang pada hari pertama dihubungkan dengan penciptaan penerang pada hari keempat. Gambaran yang sangat skematis itu memberi tekanan atas ketertiban penciptaan. Tidak ada yang kebetulan, semua diatur secara baik dan detil dan berjalan sebagaimana direncanakan oleh Sang Pencipta.

Dalam Israel kuno kalau seorang memberi nama berarti orang itu mempunyai kuasa atas mereka. Demikian juga Allah memberi nama kepada langit, bumi dan lautan. Terang itu baik seperti halnya seluruh alam semesta baik. Penegasan atas baiknya dunia ciptaan meliputi kisah penciptaan. Bagian ini diakhiri dengan kerangka waktu, dimana malam disebut lebih dahulu baru kemudian pagi, hal itu mencerminkan cara orang Israel kuno menghitung waktu (hari). Hari mulai pada saat matahari terbenam.

Penciptaan cakrawala yang memisahkan air di atas langit dari air yang ada di bawah. Langit digambarkan sebagai mangkok yang terbalik untuk menjaga air yang ada di atas agar tetap pada tempatnya. Mangkok itu memiliki jendela-jendela, agar hujan, salju, dan hujan es bisa jatuh ke bumi. Air yang ada di bawah muncul ke permukaan bumi dalam wujud sungai, danau dan sumber-sumber air.

Dari dalam bumi, Allah memanggil tumbuh-tumbuhan yang mampu berkembang biak. Kemudian penciptaan benda-benda penerang dan menempatkan di cakrawala, dan langit yang memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah penuh dengan burung, sedang air yang di bawah penuh dengan ikan-ikan. Pada hari berikutnya penciptaan binatang dan manusia agar mendiami bumi.

Seluruh kisah penciptaan ditujukan pada penciptaan manusia, tempat hunian dan segala sarana-prasarana telah di sediakan terlebih dahulu, sehingga manusia tinggal dalam kecukupan, demikian juga waktu telah diciptakan sebagai ukuran, sehingga manusia dapat mengatur hidupnya.

Mazmur 8 (Kekaghuman akan ciptaan)

Mazmur ini merupakan madah pujian kepada Allah karena telah memberikan kepada manusia tanggung jawab dan martabat. (bnd Kej 1:1-2:3 dan Maz. 104) menjelaskan bahwa bumi dan langit, yang sekarang diatur dengan indah dan teratur, mengundang untuk memuji. Pemazmur mengungkapkan kekagumannya atas dunia yang begitu indah dimahkotai dengan manusia. Manusia berdiri antara bumi dan langit; dunia diciptakan buat manusia.

II Korintus 13:11-13 (Allah sumber Kasih dan Sejahtera)

Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Korintus agar jemaat Korintus senantiasa dalam keadaan sukacita atas segala persoalan yang mereka hadapi.Terutama dalam hal kekuatiran akan segala kemungkinan yang membuat jemaat Korintus berselisih. Peselisihan karena berbagai hal, mengenai pemberian,pelayanan dan hidup dalam kasih yang menurut Paulus harus benar-benar diperhatikan. Segala hal yang nampak sederhana akan menyempurnakan kehidupan mereka jikalau mereka saling mengasihi dalam tindakan dan perilaku yang didasari dengan sehati dan sepikir. Hal penting yang diingatkan Paulus adalah mengupayakan hidup dalam damai sejahtera, karena Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera itu sendiri yang akan menyertai kehidupan umatnya.

Injil Matius 28:16-20 (Diberi Kuasa di Surga dan di Bumi)

Perintah untuk mengabarkan Injil, judul perikopnya, namun sering kita kenal dengan sebutan Amanat Agung. Perintah untuk mengabarkan Injil ini merupakan judul tambahan yang diberikan oleh editor Alkitab untuk menjelaskan rangkaian tugas panggilan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus untuk diberitakan kepada semua orang untuk dikerjakannya juga.

“Pergilah,” perintah ini disampaikan kepada ke-12 murid. Sebutan murid, memiliki arti harus belajar dari gurunya atas apa yang dikerjakan oleh gurunya, hikmat dan roh apa yang menyertai gurunya sehingga mendorong gurunya melakukan hal tersebut. Ini yang harus diperhatikan oleh para murid. Panggilan ini tidak menunjukkan panggilan untuk mengkristenkan, namun panggilan untuk melakukan apa yang dilakukan guru (jadikanlah semua bangsa muridku). Panggilan untuk menjadikan semua bangsa melakukan apa yang dilakukan oleh guru. Menjadi seorang murid adalah mempelajari sesuatu untuk menolong orang lain menjadi murid. Karena murid asli Tuhan Yesus adalah orang-orang Yahudi,jadi tidak nampak sama sekali untuk mengkristenkan. Dengan demikian, yang bisa menjadi murid Tuhan Yesus adalah semua orang, bisa belajar untuk melakukan sama seperti yang dilakukan gurunya.

“Baptiskanlah,” mengapa kita harus dibaptis? Baptis adalah sebuah tanda perjanjian untuk masuk dalam sebuah komunitas, seperti halnya dalam pramuka, memasuki sebuah universitas, ada malam inagurasi, dimatangkan dalam kawah candra dimuka, sebagai tanda bahwa seseorang telah resmi masuk dalam sebuah komunitas untuk setia terhadap komunitas itu. Karena baptisan bukan tujuan akhir, maka sangatlah keliru bila keberhasilan sebuah gereja / pendeta diukur dari jumlah orang yang dibaptis.Karena Tuhan Yesus tidak memprioritaskan baptisan, berapa orang yang sudah dibaptis oleh Tuhan Yesus ? Tidak ada. Tuhan Yesus tetap sebagai orang Yahudi. Apakah baptisan diperuntukkan bagi orang berdosa ?Bila baptisan dikaitkan dengan pengampunan dosa, Tuhan Yesuspun tidak berdosa. Tuhan Yesus solider terhadap orang berdosa.

Dengan demikian perintah untuk mengabarkan Injil ini : pergilah…adalah sebuah panggilan untuk berbela rasa terhadap setiap manusia. Panggilan untuk berbela rasa ini adalah puncak dari semua pelayanan yang telah Tuhan Yesus kerjakan (dari keseluruhan injil Matius), kasihilah sesamamu manusia.

v Khotbah Jangkep

Jemaat yang terkasih,

A

lkisah, tentang seekor tikus yang terus mengeluh karena dirinya tidak bahagia, maka ia mohon kepada Sang pencipta untuk mengubahnya menjadi matahari (karena menurutnya matahari ini selalu bersinar, tersenyum), maka dikabulkanlah keinginannya. Ketika ia menjadi matahari, tiba-tiba ia sedih lagi, karena bergumpal-gumpal awan menutupinya, sehingga ia tak dapat menyinari bumi, maka ia ingin diubah menjadi awan saja

Kembali dituruti keinginannya, ia menjadi awan, namun baru saja ia gembira, tiba-tiba angin meniupnya membawanya ketempat yang tak disenangi, maka ia pun minta menjadi angin saja, agar dapat mengusir siapapun sesuka hatinya. Setelah dirinya menjadi angin, dia senang sekali, semua yang ia lewati ia tiup, hembuskan bahkan hempaskan. Namun belum lama ia bahagia, ia nampak murung karena sebuah patung Budha tak bergeming oleh hembusannya.. ia berpikir patung Budhalah yang paling bahagia.. Maka ia minta menjadi patung. Setelah ia menjadi patung, ia sangat kaget ketika badannya tiba-tiba bergoyang-goyang..miring…miring dan terjungkal. Apa yang terjadi? Ternyata seekor tikus bersarang di bawahnya, membuat lobang di dekat kakinya sehingga kedudukannya tak seimbang dan terjungkal… Seekor tikus, membuatnya terjungkal! Sesaat dia termenung, merenungkan perjalanan reinkarnasi dirinya…kemudian ia berpikir, bahwa yang paling bahagia adalah menjadi seekor tikus seperti dulu lagi…

Jemaat yang terkasih,

Pernahkah kita memperhatikan manfaat hal-hal kecil di sekitar kita? Bahkan sesuatu yang kita pikir mengganggu kita? Pernahkah kita memikirkan bahwa tikuspun berguna? Konon tikus kini dapat digunakan untuk menggantikan anjing pelacak karena penciumannya yang tajam untuk mendeteksi ranjau.. Pernahkah kita memikirkan manfaat dari sesuatu yang ada disekeliling kita? Semua yang diciptakan Tuhan memiliki nilai dan kegunaan masing masing. Tak pernah Tuhan menciptakan tanpa memiliki maksud apapun.

Kata menciptakan, memiliki arti: art / seni, setiap hal yang diciptakannya memiliki keunikan dan keindahan masing masing. Bulan, bintang, garis cakrawala, langit, awan…batu…pasir..hewan…manusia..semuanya indah, semuanya unik. Suiseki, adalah seni dari bentuk batu yang unik. Ikebana, seni merangkai bunga, sampai pada pet shop (toko perlengkapan binatang piaraan) adalah bentuk-bentuk atau cara untuk menghargai setiap ciptaan Tuhan.

Sesuatu nampak indah karena dianggap unik, sesuatu dianggap unik, karena berbeda dengan yang lainnya.

Setiap manusia bahkan orang kembar identikpun tetap memiliki perbedaan. Oleh sebab itu sesungguhnya setiap manusia adalah unik dan indah. Setiap mahluk memiliki kebahagiaan dan kesusahannya masing masing. Akan tetapi dalam kehidupan bersamanya di dalam sebuah komunitas atau masyarakat, selalu ada kekuatan yang mendominasi yang menginginkan sebuah keseragaman, menganggap sesuatu salah jika tidak sama dengan yang lain, bahkan dianggap berdosa jika berbeda. Maka dengan menggunakan berbagai kekuatan yang ada, apakah itu budaya, kesepakatan, peraturan, berusaha untuk menekan orang-orang yang dianggap berbeda dengan menghukum, tidak memberi tempat di masyarakat, mempermalukan sehingga banyak orang dengan sangat tertekan dan terpaksa mengikuti apa yang oleh pendapat umum dianggap wajar.

Jemaat yang terkasih,

Dari kitab Kejadian 1 ini kita meyakini bahwa adanya siang dan malam adalah kerena Allah yeng menciptakan. Kalau ada siang dan malam, tentunya ada pagi dan sore, menjelang terang dan menjelang gelap. Dalam kehidupan manusia tentunya kita juga meyakini laki-laki dan perempuan adalah Tuhan yang menciptakan, akan tetapi mengapa masih banyak orang tidak bisa menerima kehadiran manusia yang jenis kelaminnya tidak jelas? Transgender misalnya, yaitu seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak di antara keduanya. Orang yang ditetapkan gendernya biasanya pada saat kelahirannya dan didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah atau tidak sempurna bagi dirinya. Dengan keberadaan atas jenis kelamin yang ditetapkan itu yang tidak sesuai dengan keinginannya, membuat mereka cukup tersiksa, ditambah lagi sikap penolakan dan diskriminatif terhadap mereka. Adalah sikap yang sangat tidak adil dan menindas. Adakah di dalam komunitas kita, di gereja kita masih terjadi perlakuan diskriminatif terhadap mereka? Adakah alasan yang mendasar hingga mereka menjadi kelompok yang dipinggirkan? Satu syarat penting dalam pemberkatan pernikahan adalah saling mencintai,jika kita dapati dalam sebuah gereja kita pasangan trangender minta dinikahkan dan diberkati, apakah mungkin itu kita lakukan?

Persoalan dominasi yang lain, sebut saja persoalan di beberapa gereja, yang masih mempersoalkan mengenai model pendeta ideal, Yang kemudian tanpa disadari terciptalah sebuah stereotype Pendeta ideal. Pendeta ideal adalah pendeta yang istrinya atau suaminya selalu menyertai, hadir dan aktif, Pendeta ideal adalah yang santun bertutur kata, berpakaian formal, tidak gondrong apalagi berwarna rambutnya (kecuali putih), hangat dan menyenangkan, menerima apa adanya tidak begini tidak begitu, sesuai nilai nilai yang diciptakan oleh jemaat, sesuai selera jemaat. Kalau pendeta asalnya dari desa, sesampai di kota dipermak sesuai selera kota, kalau sebaliknya dari kota ke desa harus menjadi seperti orang desa, jika tidak terjadi penyesuaian (perubahan) maka dianggap tidak baik (tidak lumrah). Apa akibat dari sistem dominasi ini? Beberapa pendeta yang tidak tahan akan memaksa diri menjadi bukan dirinya sendiri hanya demi diterima oleh orang lain dan hanya karena tidak mau berkonflik. Bagaimana dengan pendeta yang bertahan? Tentu lambat laun akan menyimpan bom waktu.

Bukankah hal ini tidak ada bedanya ketika RUU pornografi dipaksakan untuk diterima dalam bangsa yang multietnis? Mengapa harus yang baik menurutmu harus menjadi baik untukku?

Jemaat yang terkasih,

Terlepas dari siapa dan dimana, menjadi diri sendiri adalah sebuah kemerdekaan. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang dapat mengekspresikan dirinya apa adanya. Seorang yang sanguine akan jenuh jika mendengarkan music orang melankolis. Seorang introvert (tertutup) tidak akan nyaman dalam komunikasi ala extrovert. Kalaupun mereka mau melakukan adalah hanya untuk sesaat waktu atau sebuah keterpaksaan. Seperti halnya agama dan kepercayaan adalah persoalan pribadi, tidak bisa dipaksakan. Untuk membuat semua mahluk berbahagia adalah menolong bagaimana mereka menjadi diri mereka sendiri, tidak menciptakan stereotype karena stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar.

Keprihatinan yang hampir sama, yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus yaitu pentingnya hidup yang saling mengasihi, saling menguatkan tidak hidup untuk kepentingan sendiri. “Sehati dan sepikirlah kamu” merupakan panggilan keesaan tujuan, akan tetapi ini bukan masalah tekhnis, cara untuk menjadi satu. Satu, adalah dalam maksud dan tujuan yang mulia, yang saling melayani. Rasul Paulus menasehati jemaat agar dalam kehidupan mereka, mereka sungguh sungguh memperhatikan pentingnya pelayanan. Karena di dalam kehidupan yang memiliki tujuan mulia, Allah dengan segala kuasaNya dapat melakukan hal hal yang diluar kemampuan akal manusia untuk mendatangkan damai sejahtera.

Jemaat yang terkasih,

Dalam perintah untuk mengabarkan Injil, Tuhan Yesus memerintahkan :

o Pergilah

o Jadikan semua bangsa muridKu

o Baptiskanlah

Sebutan murid, memiliki arti harus belajar dari gurunya, apa yang dikerjakan oleh gurunya, hikmat dan roh apa yang menyertai gurunya sehingga mendorong gurunya melakukan hal tersebut, harus diperhatikan oleh para murid. Panggilan ini tidak menunjukkan panggilan untuk mengkristenkan, namun panggilan untuk melakukan apa yang dilakukan guru (jadikanlah semua bangsa muridku).

Menjadi seorang murid adalah mempelajari sesuatu untuk menolong orang lain menjadi murid. Karena murid asli Tuhan Yesus adalah orang-orang Yahudi,jadi tidak nampak sama sekali untuk mengkristenkan. Dengan demikian, semua orang bisa menjadi murid Tuhan Yesus, bisa belajar untuk melakukan sama seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

“Baptiskanlah,” mengapa kita harus dibaptis? Baptis adalah sebuah tanda perjanjian untuk masuk dalam sebuah komunitas, seperti halnya dalam pramuka, memasuki sebuah universitas, ada malam inagurasi, dimatangkan dalam kawah candra dimuka, sebagai tanda bahwa seseorang telah resmi masuk dalam sebuah komunitas untuk setia terhadap komunitas itu. Karena baptisan bukan tujuan akhir, maka sangatlah keliru bila keberhasilan sebuah gereja/pendeta diukur dari jumlah orang yang dibaptis. Karena Tuhan Yesus tidak memprioritaskan baptisan, berapa orang yang sudah dibaptis oleh Tuhan Yesus? Tidak ada. Tuhan Yesus tetap sebagai orang Yahudi. Apakah baptisan diperuntukkan bagi orang berdosa? Bila baptisan dikaitkan dengan pengampunan dosa, Tuhan Yesuspun tidak berdosa. Akan tetapi Tuhan Yesus solider terhadap orang berdosa.

Dengan demikian perintah untuk mengabarkan Injil ini: “pergilah…” adalah sebuah panggilan untuk berbela rasa terhadap setiap manusia. Panggilan untuk berbela rasa ini adalah puncak dari semua pelayanan yang telah Tuhan Yesus kerjakan (dari keseluruhan injil Matius), kasihilah sesamamu manusia. Sikap berbela rasa inilah yang menjadi panggilan utama dalam memberitakan Injil. Melalui berbela rasa ini tentunya setiap umat dipanggil untuk menolong setiap orang yang tertindas dalam bentuk penindasan apapun juga. Umat dapat memulainya dengan dirinya sendiri dalam mengkritisi kembali nilai nilai kehidupan yang ia miliki, apakah masih dipaksakan kepada orang lain, ataukah orang lain harus menerima dan meyakini nilai nilai kebenarannya? Hidup dengan berbagai macam karakter manusia, dengan berbagai ragam kebiasaan dan budaya mestinya justru akan memperkaya penghormatan dan penghargaan akan penciptanya.

Oleh sebab itu, mari kita saling menghormati dengan saling memberi tempat semestinya bagi orang lain, agar orang lain dapat bahagia mengekspresikan dirinya, tidak harus terpaksa kehilangan kepribadiannya hanya karena nilai nilai kebenaran kita. Biarkan semua mahluk berbahagia.

Amin.

v Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah : Lukas 15:4,5

Petunjuk Hidup Baru : Yohanes 8:31,32

Persembahan : Lukas 14:33

v Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka : KJ 60:1-3

Nyanyian Penyesalan : KJ 33:1,2

Nyanyian Kesanggupan : KJ 369:1-3

Nyanyian Persembahan : KJ 417:1-

Nyanyian Penutup : KJ 426:1,3

Khotbah Jangkep Minggu, 19 Juni 2011

Dinten Riyaya Tri Tunggal Maha Kudus (Minggu Trinitas)

Padha baptisen ing asmane Sang Rama, Sang Putra lan Sang Roh Suci

Waosan I: Purw. Dumadi 1:1-2:4a; Tanggapan: Jabur 8;

Waosan II: II Korintus 13: 11-13; Waosan III: Injil Mateus 28:16-20

Tujuan :

Awit paham sadhengah ingkang kacepto dening Allah punika pinanggih sae, sadaya engkang cinepto samyo nggadhahi tanggungljawab sami tulung-tinulung ing salebeting pulihing sadaya engkang cinipta. Kanthi mbabaraken kabar suko-bingah, sadaya umatipun Gusti kasuwun sami kagungan tanggeljawab samya mendhet bagyanipun, supados pulih lan utuhing kang cinipta.

v Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Sang Kristus,

W

onten satunggaling cariyos, ngengingi tikus ingkang tansah nggresula karana boten nate ngraosaken bingah, satemah tikus punika nyuwun dhateng ngarsanipun Gusti supados dipun dadosaken srengenge ingkang miturut piyambakipun tansah binga, lajeng panyuwunan punika kasembadan. Sasampunipun dados srengenge, wangsul malih ngraosaken sisah karana pedhut asring nutupi satemah sunaripun boten dumugi bumi. Mila sapunika nyuwun dipun dadosaken pedhut. Panyuwunanipun dipun pirengaken malih, lajeng dados pedhut, dereng dangu anggenipun bingah, wonten angin midit ingkang nyurung piyambakipun… lajeng wangsul malih dhateng Gusti, nyuwun dipun dadosaken angin kemawon. Sasampunipun dados angin, piyambakipun muring-muring karana wonten satunggaling reca Budha ingkang babar pisan boten mingset sanadyan sampun dipun surung wongsal wangsul…sapunika, pamanggihipun: Reca Budha kuwi sing paling bungah! Wangsul malih lan ngaturaken panyuwunanipun, supados dipun dadosaken reca. Dados reca…, dereng dangu, kados-kados badanipun miring…miring..lajeng ngglimpang. Punapa estunipun ingkang kelampahan? Jebul wonten satunggaling tikus ingkang ngerong ing sangandhapipun, lajeng siti ingkang wonten ing ngandhapipun growong… Jebul tikus saged ngglimpangaken preca ageng! Tikus! Ooo nek ngono Tikus luwih kuwat, luwih bungah tinimbang sakabehe kuwi….Aku iki tikus kang paling untung! Paling bungah!

Para sedherek ingkang kinasih,

Punapa kita asring nggatosaken prakawis-prakawis alit ing sakiwa-tengen kita? Punapa dene prakawis ingkang miturut kita namung ngganggu kemawon? Punapa kita ugi nate menggalihaken ginanipun tikus? Miturut cariyos, tikus punika inggih saged dados piranti kangge madosi wontenipun ranjau, 30 tikus saged mrantasi 600.000 ranjau.. nggantosaken segawon.

Punapa kita ugi asring menggalihaken paedah-paedah punapa kemawon ingkang wonten ing sakiwa-tengen kita? Sedaya titahipun Gusti temtu nggadahi paedah piyambak-piyambak. Gusti dereng nate nitahaken punapa kemawon ingkang tanpa paedah.

Tembung nitahaken, ing kitab Purwaning Dumadi, nggadhahi pangertosan ing babagan seni, kaendahan, sedaya ingkang dipun titahaken nggadhahi kaendahan piyambak piyambak secara mirunggan. Lintang, mbulan, srengenge, angin, mega, pasir, sato kewan, manungsa….sedaya endah. Suiseki, inggih punika satunggaling seni saking sela ingkang bentukipun endah, antik. Ikebana, seni nata sekar, ngantos toko ubarampe kangge kewan ingkang dados klangenan, punika boten sanes mujudaken cara anggenipun ngaosi titahipun Gusti.

Satunggaling prakawis punika katon endah awit kawawas beda kaliyan sanesipun, unik. Saben tiyang, malah kepara kembar kemawon ugi esthi nggadhahi babagan ingkang beda, pramila punika estunipun sedaya manungsa punika unik lan endah. Saben titah punika temtu nggadhahi kaluwihan lan kekirangan, kabingahan lan kasisahanipun piyambak. Ananging emanipun ing salebeting gesang sesarengan, sae punika ing kelompok utawi ing masyarakat, tansah wonten satunggaling kekiyatan ingkang tansah nguwaosi ingkang ngersaaken satunggaling keseragaman. Malah kepara nggadhahi pamanggih bilih menawi boten sami punika lepat, utawi dosa.

Pramila kanthi ngginakaken kekiyatan ingkang wonten, inggih punika: kabudayan, pirembagan, aturan dipun ginakaken minangka gaman anggenipun nguwaosi tiyang sanes ingkang kawawas beda kanthi paring sanksi, ukuman, dipun damel lingsem, boten paring papan ing masyarakat, satemah para tiyang tiyang punika kanthi kepeksa tumut lan manut dhateng pamanggih ingkang lumampah ing masyarakat utawi pamanggih umum.

Para sedherek ingkang kinasih,

Ing Kitab Purwaning Dumadi 1, kita sadaya mitadosi bilih siyang lan ndalu punika Gusti Allah ingkang nitahaken. Menawi wonten siyang lan ndalu, temtunipun wonten enjang lan sonten methukaken padhang lan mengkeraken peteng. Mekaten ugi ing gesanging manungsa, wonten tiyang jaler, wonten tiyang estri, punika Gusti ingkang nitahaken, ananging kenging punapa taksih kathah tiyang ingkang dereng saged nnampi sawetahipun kawontenan tiyang ingkang jeniskelaminipun boten cetha? Transgender (wandu) umpaminipun, inggih punika tiyang ingkang jati dhirinipun boten cetha. Tiyang ingkang sampun katetepaken lumantar akta kelahiran, ananging boten saged nampi kawontenanipun. Saestu punika ndadosaken manahipun kepeksa, rumaos dipun tindhes katambahan wonten perangan masyarakat ingkang boten saged nampi kawontenanipun malah dipun anggep tiyang dosa, rereged. Saestu patrap ingkang kados mekaten punika patrap ingkang boten adil.

Para sedherek, punapa taksih wonten sikap ingkang boten adil tumrap sedherek transgender punika ing greja kita? Punapa wonten pawadan ingkang gumathok temah ngleresaken patrap ingkang nyingkiraken sedherek transgender punika? Kita sedaya mangertos, bilih salah satunggaling syarat anggenipun tiyang neningkahan inggih punika: sami dene nresnani. Saupami, ing greja kita punika wonten sedherek transgender ingkang kepingin nikahipun binerkahan, punapa saged dipun ladosi panyuwunanipun?

Prakawis ngengingi kekiyatan ingkang nguwaosi sanesipun, inggih punika prakawis ing saperangan gereja ingkang taksih nggadhahi ukuran Pandhita Ideal. Pandhita ingkang kaanggep ideal/sae inggih punika ingkang garwanipun tansah nyengkuyung ing salebeting peladosan, tansah ngrawuhi sedaya peladosan, anggenipun ngendikan dipun tata, pangagemanipun prasaja, rikmanipun boten gondrong lsp. Pituwas punapa ingkang badhe kaangsalaken saking kekiyatan/panguwaos punika? Saperangan pandhita ingkang boten kiyat temtu lajeng manut kaliyan pamawas umum supados katingal sae lan supados boten nuwuhaken pasulayan, sinaosa anggenipun nglampahi kados-kados boten dados dhirinipun piyambak. Dene ingkang tetep nggegegi , sekedhik mbaka sekedhik temtu ugi lajeng nuwuhaken reraosan lan raos boten sreg saking tiyang sanes. Sedaya punika saestu boten sehat.

Kita lajeng kengetan dhateng UU Pornografi ingkang badhe dipun peksakaken kelampahan ing negari punika, sinaosa sampun pirsa bilih Indonesia punika negari ingkang dumadi saking mawarni-warni suku lan kabudayan. Kenging punapa ingkang sae tumraping panjenengan kedah kaanggep sae tumraping kula?

Para sedherek ingkang kinasih,

Ing pundia kemawon lan sok sintena kemawon, babagan dados dhirinipun piyambak punika boten sanes wujuding kamardikan. Tiyang ingkang kapribadenipun mendel, anteng temtu ugi boten saged wawan rembag kanthi cara-cara ingkang blak-blakan, punapa wontenipun. Menawi kedah nindakaken, punika temtu satunggaling lampah ingkang kepeksa. Kadosdene agami lan kapitadosan punika estunipun prakawis pribadi, boten prelu dipun dadosaken prakawis. Supados sedaya titah ngraosaken kabingahan inggih punika kita kedah mitulungi supados saben titah dados dhirinipun piyambak, dados kadosdene tujuwanipun katitahaken. Boten malah damel pathokan-pathokan miturut kita piyambak.

Kaprihatosan ingkang sami ugi dipun raosaken dening rasul Paulus tumrap pasamuwan ing Korintus, inggih punika pentingipun gesang ingkang sami dene nresnani, samidene paring kekiyatan, tebih saking gesang ingkang nggatosaken kepentinganipun piyambak. “Padha disarujuk, padha atut rukun,” punika mujudaken timbalan patunggilan supados sami dene nggadhahi ancas ingkang luhur. Rasul Paulus ngengetaken supados sami temen anggenipun nggatosaken peladosan. Awit ing salebeting gesang ingkang ancasipun luhur, kagem kaluhuranipun Gusti, kanthi panguwaosipun temtu saged nindakaken prakawis-prakawis ingkang boten pinanggih nalar amrih sedaya ngraosaken katentreman.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Ing salebeting timbalan supados ngabaraken kabar kabingahan, Gusti paring dhawuh :

o padha lungaa

o kabeh bangsa padha dadekna siswaku

o baptisen, ing asmane Sang Rama, sang Putra lan sang Roh Suci.

Artosipun murid, inggih punika kedah ngangsu kawruh saking gurunipun. Mangertos roh lan kawicaksanan punapa ingkang ndadosaken gurunipun nindakaken mekaten. Murid katimbalan nindakaken pangertosan luhur ingkang katindaken gurunipun, mila ndadosaken murid punika sanes ngristenaken, ananging ndadosaken kathah tiyang sami nindakaken paugeran lan tata gesang ingkang katindakaken dening Gusti Yesus. Awit nalika semanten, muridipun Gusti Yesus ugi tiyang asli Yahudi, satemah cetha sanget anggenipun boten ngristenaken. Kanthi mekaten, sadaya muridipun Gusti saged sinau nindakaken punapa ingkang katindakaken dening Gusti Yesus.

“Padha baptisen,” kenging punapa kita perlu kabaptis? Baptis boten sanes inggih punika tandha lumebet ing satunggaling prajanjian, lumebet ing satunggaling kelompok masyarakat punapadene kapitadosan. Baptis inggih punika satunggaling tandha ingkang resmi lumebet ing satunggaling kelompok lan sagah setya tuhu nindakaken samukawis ingkang sampun dipun sarujuki.

Awit baptisan punika sanes tujuwan ingkang pungkasan, mila klentu sanget menawi kasil lan botenipun satunggaling greja gumantung kaliyan sepinten tiyang ingkang kabaptis. Awit Gusti yesus boten nengenaken baptisanipun, ananging lampah gesang minangka wohing baptis punika. Sampun pinten tiyang ingkang kabaptis dening Gusti Yesus? Boten wonten. Punapa baptisan namung kangge tiyang dosa kemawon? Gusti yesus boten seda, ananging tetep kabaptis, punika mujudaken bilih baptisanipun Gusti Yesus punika solider tumrap tiyang dosa,

Para sedherek ingkang kinasih,

Kanthi mekaten, timbalan kangge ngabaraken Injil punika: padha lungaa.. boten sanes inggih punika timbalan anggenipun nindakaken katresnan dhateng sedaya manungsa. Timbalan punika mujudaken pucuking saking sedaya peladosan ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus. Patrap ingkang nindakaken katresnan punika ingkang mujudaken ayahan ingkang utami ing salebeting ngabaraken Injil. Lumantar Patrap nindakaken katresnan (berbela rasa) punika, sedaya pasamuwan tinimbalan nindakaken pitulungan dhateng sedata tiyang ingkang tinindes ing babagan punapa kemawon. Pasamuwan saged miwiti saking dirinipun piyambak, ing salebeting metani malih bab paugeran ingkang dipun ugemi, punapa punika taksih kapeksaaken dhateng tiyang sanes supados tiyang sanes ugi nampi minangka paugeranipun?

Gesang sesarengan kaliyan mawerni werni sipating manungsa, lan mawarni-warni padatan saha kabudayan, temtunipun malah sangsaya lebet anggenipun ngaosi Gusti ingkang nitahaken. Pramila punika, sumangga kita sami dene ngaosi kanthi paring papan tumrap tiyang sanes, amrih tiyang sanes saged ngraosaken suka bingah ing salebeting dhirinipun, tanpa kedah kecalan jati dhirinipun namung karana paugeran kita.

Kaudia sadaya titah sami suka bingah. Amin.

v Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat : Lukas 15:4,5

Pitedah Gesang Enggal : Yokhanan 8:31,32

Pangatag Pisungsung : Injil Lukas 14:33

v Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka : KPK BMGJ 25 : 1,2

Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 49 : 1-3

Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 104:1-3

Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 137:1-

Kidung Panutup : KPK BMGJ 289:1,2

Khotbah Jangkep Minggu, 26 Juni 2011

Minggu Biasa KeTiga belas (Hijau)

Sambutlah Semua Orang

Bacaan I: Yeremia 28:5-9; Tanggapan: Mazmur 89: 1-4, 15-18;

Bacaan II: Roma 6:12-23; Bacaan Injil: Matius 10:40-42

Tujuan:

Memberi tempat , menolong, mengulurkan tangan pada semua orang melalui apa yang kita miliki dengan ketulusan hati dengan tidak mengharapkan apapun.

v Dasar Pemikiran:

Ketika orang memberi bantuan/pertolongan, tidak sedikit selalu ada maksud tersembunyi dibaliknya, entahkah hanya ucapan terima kasih ataupun untuk di kenang sebagai orang yang baik.

Menyambut semua orang, berarti memberi pertolongan kepada siapapun tanpa memikirkan imbalannya. Dengan meyakini Allah yang Maha Kuasa, tentu akan meyakini juga bahwa Dia yang mengatur segalanya untuk kebaikan kita bersama. Ketika kita yakin apa yang kita lakukan adalah baik dan benar, kiya yakin juga bahwa apa yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia dan akan kembali lagi entah dalam bentuk apapun. Persoalannya, apakah kita menyediakan diri untuk senantiasa menjadi bagian dalam menjadi berkat bagi orang lain.

v Keterangan Tiap Bacaan:

Yeremia 28:5-9 (Nabi Asli dan Nabi Palsu)

Dalam pasal 28 merupakan cerita yang hidup mengenai pertemuan berhadapan muka antara nabi sejati dan nabi palsu. Hanania menubuatkan keberhasilan, Yeremia melawan dengan suatu pernyataan yang secara tidak langsung mempersalahkan Hanania karena bernubuat palsu.

Mazmur 89: 1-4, 15-18 (Mengabarkan Kasih Setia Tuhan)

Umat meratapi kekalahan raja yang, yang mewakili pemerintahan Yahwe atas dunia dan semua penduduknya. Pemerintahan itu ditunjukkan oleh penciptaan Allah. Kekalahan wakil Yahwe di dunia, yakni raja, menimbulkan pertanyaan, apakah Yahwe benar-benar Allah yang maha kuasa. Memuji Allah yang membuat aman dengan satu tindakan penciptaan penghuni surga dan wangsa Daud, seperti ratapan umat lainnya.

Salah satu bagian dari kemenangan yang menciptakan dunia ini adalah pengangkatan raja keturunan Daud, yang diberi bagian buah-buah kemenangan oleh Yahwe dalam suatu perjanjian yang resmi.

Roma 6:12-23 (Persembahan yang hidup)

Sejumlah besar perintah dalam bagian ini bercirikan dorongan penuh semangat, yang mengalir sebagai kesimpulan wajar dari kenyataan yang diuraikan dalam kesebelas ayat sebelumnya. Janganlah kekuatan yang mengasingkan itu (dosa) menguasai hidup seseorang (12). Janganlah menyerah kepada kerinduan, keinginan dan kecenderungan yang hanya akan memosisikan diri seseorang dalam perlawanan dengan Allah. Sekali dan untuk selamanya, hendaknya seseorang menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, harfiahnya menjadi hamba Allah. Sehingga Ia dapat memanfaatkan seseorang untuk melakukan apa yang benar. Jangan membiarkan kekuatan dosa menguasai pribadi seseorang. Sekarang orang hidup dalam pengaruh rahmat dan tidak dibawah pengaruh hukum Yahudi yang telah digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari halangan lahiriah atau hambatan untuk memilih dan mengajar tujuan yang ditentukan secara individualistis. Bagi Paulus, hidup manusia tidak mungkin tidak bergantung sama sekali, dalam arti hidup tanpa orang lain. Paulus menegaskan bahwa kebebasan dari kekuatan atau kekuasaan dosa, yang dihasilkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus, bukan berarti manusia independen secara total dan penuh, melainkan tergantung kepada penerimaan Allah. Inilah sebabnya mengapa orang dibaptis tidak dapat terus menerus berbuat dosa.

Matius 10:40-42 (Menyambut Tuhan dalamdiri manusia)

Bagian terakhir dari wejangan perutusan mengulangi lagi tema pokok dari wejangan. Para murid adalah wakil Yesus. Menerima mereka tidak hanya menerima Yesus tetapi juga menerima Bapa-Nya di sorga. Anugerah yang sesuai akan diberikan kepada mereka yang menerima para nabi Kristen dan orang-orang kudus atau bahkan orang Kristen biasa, karena mereka semua mewakili Kristus dan Bapa surgawi-Nya.

Latar belakang ayat ini adalah kebiasaan Yahudi untuk mengangkat orang sebagai utusan resmi buat tugas-tugas yang penting, dengan gelar Ibrani “Syaliakh”. Seorang utusan seperti itu dapat diangkat untuk semua urusan, baik keuangan, politis dan keagamaan. Seorang utusan seperti itu menjadi wakil penuh orang yang sudah mengutusnya. Ia harus mengerjakan dengan teliti apa yang ditugaskan kepadanya.

Tiga gelar dipakai dalam ayat-ayat ini, nabi, yang berarti orang yang berkotbah dengan di tolong Roh Kudus, orang benar, yang berarti orang yang hidup menurut kehendak Tuhan dan orang kecil yang berarti orang yang dianggap kecil dan rendah. Tentu saja ketiga gelar itu dapat dikenakan kepada kedua belas murid. Tulisan ini ingin meyakinkan utusan-utusan Kristus bahwa mereka penting pada pemandangan Allah, dan dengan serentak ingin memanggil orang Kristen untuk memberi pertolongan kepada pengajar-pengajar yang beredar.

Sesungguhnya setiap orang beriman adalah utusan Allah di tengah dunia. Sebagai utusan Allah, setiap orang beriman dikehendaki Allah menjadi seorang yang memberitakan “kasih Allah di dalam Yesus Kristus”, dan menyaksikan “kasih” itu di dalam perbuatan memberi (kebaikan) termasuk yang paling disayangi atau paling berharga baginya dengan tanpa pamrih. Biar pun, karena itu, ia mungkin direndahkan dan dihina-hinakan oleh dunia.

v Khotbah Jangkep

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

S

uatu kali ada gereja yang mengundang seorang pendeta untuk menyampaikan firman Tuhan dan bersaksi mengenai pelayanan yang telah ia lakukan dalam dua puluh tahun terakhir. Penampilannya sederhana. Ia berkhotbah tanpa jas dan dasi. Khotbahnya pun sederhana, tetapi pesannya sangat jelas. Namun, yang lebih membuat jemaat di situ terkesan adalah hatinya. Ia memiliki hati untuk melayani orang-orang yang terpinggirkan; seperti anak-anak jalanan, anak-anak pedesaan, bahkan sampai kepada tahanan-tahanan. Dan, dari hatinya muncul keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, karena sesuai dengan perintah Allah, ia menyambut semua orang tanpa melihat agama, suku dan warna kulit.

Jika kita membandingkan keyakinan pendeta tersebut dengan ayat yang kita baca hari ini, memang benar demikian adanya. Tuhan sebenarnya memberikan sebuah tatanan pelayanan yang benar. Jika kita ingin melayani Tuhan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler. Kita dapat memulainya dari hal sederhana: “memberikan secangkir air sejuk” bagi orang-orang yang terpinggirkan dan berkekurangan—”yang kecil ini”. Meski itu berarti juga berani keluar dari zona nyaman, untuk melayani yang kurang terlayani.

Entah sudah berapa lama konsep melayani Tuhan yang kita miliki hanya terbatas di dalam tembok gereja. Tentu apa yang kita lakukan di gereja selama ini tidaklah salah, tetapi dengan mengingat apa yang disampaikan Tuhan Yesus kepada kita, seharusnya kita juga memikirkan hal-hal di luar tembok gereja, terutama untuk melayani kaum yang Alkitab sebut sebagai “yang kecil”. Sudah saatnya kita melakukan kebenaran firman Tuhan ini.

Nilai persembahan yang berkenan kepada Allah bukanlah dari ukuran kuantitatif dan fisik; tetapi sejauh manakah hati dan roh kita ditempatkan dalam persembahan tersebut. Itu sebabnya di Mat. 10:42, Tuhan Yesus berkata: “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya". Dari ukuran ekonomis, secangkir air bukanlah harga yang mahal kecuali kita sedang berada di padang gurun. Tetapi ketika kita memberikan secangkir air dengan segenap hati khususnya kepada orang yang paling menderita dan sedang membutuhkan, maka tindakan kita tersebut merupakan tindakan yang berkenan di hati Allah. Sebab yang kita berikan sebenarnya bukan hanya secangkir air, tetapi kita juga memberikan keramahan dan kepedulian kita kepada sesama. Melalui secangkir air tersebut, kita juga mengungkapkan kasih dan hati kita yang terdalam kepadanya. Pernahkah saudara tersentuh oleh tindakan dari seseorang yang sebenarnya sangat sederhana karena dia melakukannya dengan sepenuh hati? Atau sebaliknya pernahkah saudara menerima beberapa barang yang bernilai mahal tetapi hati saudara ingin menolaknya karena dilakukan dengan sikap yang kurang bersahabat atau motif yang mencurigakan? Kalau kita sebagai sesama dapat merasakan suasana hati dan motif dari orang yang memberikan sesuatu kepada kita; apalagi Tuhan. Dia sangat mengetahui secara persis apakah kita sungguh-sungguh mempersembahkan kepadaNya sesuatu yang suci, ataukah kita telah memanipulasi kemuliaan namaNya untuk kepentingan diri kita sendiri. Di Mat. 10:41, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar”. Di samping persoalan bagaimana kita harus memperlakukan seorang yang lemah dan tidak berdaya; Tuhan Yesus juga mengingatkan tentang perlakuan kita untuk menyambut seorang nabi dan seorang benar. Makna memperlakukan seorang nabi yang dimaksudkan cukup jelas yaitu terlihat dari perlakuan Herodes yang telah menangkap dan memenjarakan Yohanes Pembaptis. Herodes telah menggunakan kekuasaan dan anggota tubuhnya untuk membunuh dengan cara memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Kini tugas orang percaya sepanjang zaman adalah bagaimana mereka memperlakukan orang yang telah berlaku benar di hadapan Allah. Betapa sering kita memperlakukan orang benar dengan sikap yang tidak adil seperti: memfitnah dia karena ucapannya yang tegas dan tajam, atau memusuhi dia karena sikapnya yang tidak mau berkompromi. Terlebih lagi hanya karena kita tidak senang tanpa alasan yang tidak jelas.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus

Berbicara tentang menyambut sesama tanpa prasangka, ada sebuah kisah nyata, seorang anak yang sedang kelaparan dan kehausan melewati sebuah komplek perumahan yang cukup elite disuatu kota kecil, dia berpikir untuk mengetuk pintu salah satu rumah dan akan memberanikan diri meminta makanan dan minuman. Dengan rasa ragu-ragu dan karena desakan perut yang keroncongan maka si anak tersebut mengetuk salah satu pintu rumah, keluarlah seorang ibu muda, merasa takut dan tidak layak dan bercampur bingung, maka anak itu berkata: “Ibu bolehkah aku minta segelas air?”

Ibu muda itu melihat anak itu dengan rasa belas kasihan, ia masuk dan kemudian membawakan segelas besar yang berisi susu. Setelah diminum anak itu berkata: “Ibu, berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?” Ibu itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apa pun, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan.”

Beberapa puluh tahun kemudian, ibu muda (yang kini sudah lanjut usia) mengalami sakit kritis, sakitnya sangat komplek, dia sudah berstatus janda dan sudah banyak hartanya terkuras untuk kehidupan dan penyakitnya. Karena di kota itu pengobatan tidak memadai akhirnya ibu itu dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota lain. Dr. Sobur NA dipanggil untuk mengobservasi atas penyakit ibu tersebut, setelah ia bertatap muka dengan perempuan itu Dr. Sobur mengenali wajah ibu itu dan ketika dia membaca statusnya, meyakini dia mengenalnya. Dengan kepandaian Dr Sobur ia berjanji akan menolong ibu itu sampai sembuh, dan dia meminta bagian keuangan supaya semua tagihan ibu tersebut menjadi bebannya.

Pengobatan terus berjalan sampai bulan ketiga dan ibu tersebut sembuh, diijinkan untuk pulang, namun dia sangat sedih meskipun sudah sembuh. Ia takut harus membayar dengan apa atas pengobatan di rumah sakit selama 3 bulan tersebut. Sebelum pulang, maka perawat memberi lembar tagihan kepada ibu tersebut, dengan rasa cemas ia membuka lembar tagihan dan terdapat rincian biaya selama tiga bulan di rumah sakit, namun di pojok atas tertulis “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!” tertanda Dr. Sobur NA.

Saudara-saudara jika kita ditanya, apa yang paling membuat kebahagian manusia saat ini? Mungkin kita akan menjawab “memberi kebahagiaan bagi orang lain”. ya memberi memang lebih indah daripada menerima, memberi merupakan wujud kerendahan hati kita kepada Tuhan, dan akan semakin menarik jika kita memberi tanpa prasangka, tanpa membeda-bedakan, namun memberi kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan. Seorang ibu muda yang memberi segelas besar yang berisi susu, merupakan pemberian yang menghidupkan. Tidak sekedar memberi tetapi ibu itu telah menyambut seorang anak, seperti menyambut Tuhan, menyambut orang yang dikasihi. Memberi berarti melakukan inisiatif pertama tanpa mengharapkan balasan, karena apa yang kita lakukan telah diperhitungkan oleh Tuhan. Para psikolog Eropa telah melakukan serangkaian penelitian longitudinal dan hasilnya bahwa orang yang selalu memberi tanpa berharap balasan ternyata memiliki daya tahan mental yang tinggi, lebih mampu menghadapi cobaan hidup dan terhindar dari penyakit-penyakit yang diakibatkan stress

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan

Jika kita menyadari akan sikap hidup yang kadang kita lakukan yaitu memusuhi orang, tidak peduli terhadap mereka yang mengalami penderitaan, sikap egois (tidak kompromi yang baik), membenci, membeda-bedakan orang karena status, agama dan yang lain, sebenarnya kita telah berada pada penghakiman terhadap orang lain, yang seharusnya penghakiman itu merupakan hak Tuhan, oleh karena itu datanglah kepada-Nya, Dia menyediakan keselamatan bagi setiap orang yang percaya dan memohon pengampunannya. Karena kasih karunia Allah tersebut mengajak kita untuk merenung ulang betapa besar harga keselamatan yang telah kita peroleh. Kita diselamatkan oleh Allah dengan harga yang begitu mahal yakni oleh darah Kristus. Sehingga kita yang semula adalah hamba atau budak dosa dijadikan oleh Allah sebagai “hamba-hamba kebenaran” (Rom. 6:18). Konsekuensinya adalah agar kita sungguh-sungguh mau menggunakan atau menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah untuk menjadi “senjata-senjata kebenaran” (Rom. 6:13). Tetapi realitanya justru sering tidak demikian! Anggota-anggota tubuh kita sering kita jadikan sebagai senjata kelaliman, yaitu alat yang duniawi untuk mereguk berbagai hawa nafsu dosa. Anggota tubuh kita sering menjadi alat yang efektif yang menindas, mengeskploitasi dan merampas hak milik orang lain. Karena itu makna persembahan yang mulia dan berkenan kepada Allah sering diselewengkan sekedar persembahan uang. Sehingga untuk “menebus berbagai kesalahan dan dosa”, kita kemudian memberi persembahan uang yang sebanyak-banyaknya. Atau kita merasa lebih baik dan saleh saat kita juga mau mempersembahkan waktu dan pikiran kepada Tuhan. Dengan persembahan waktu dan pikiran tersebut kita beranggapan telah mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang paling fundamental, bernilai dan total. Padahal persembahan uang, waktu dan pikiran saja belum dapat menjadi tolok ukur yang paling tepat untuk mengetahui manifestasi kasih kita kepada Tuhan. Sebab kita bisa saja memberikan persembahan berupa uang, waktu dan pikiran dengan motivasi yang duniawi; namun hati kita sebenarnya tidak tertuju kepada Tuhan. Bagaimana kalau fokus dari semua perbuatan yang mulia tersebut ternyata diri kita sendiri? Bagaimana seandainya kita memberikan persembahan uang, waktu dan pikiran ternyata hanyalah bertujuan untuk kemuliaan diri kita sendiri tetapi dengan menggunakan nama Tuhan? Jadi segala perbuatan atau tindakan yang mulia dan suci tetapi belum dipersembahkan secara utuh kepada Tuhan, bukanlah persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah.

Jika demikian, apakah saudara tetap mengasihi Allah walau saudara diuji dengan cara yang menyakitkan hati? Apakah saudara tetap mau mempersembahkan yang paling berharga walaupun saudara selama ini telah hidup setia dan melayani Tuhan secara formal di gereja? Apakah persembahan yang saudara lakukan, sungguh-sungguh mencerminkan ketulusan hati yang paling dalam saat saudara menyambut seorang yang lemah dan tidak berdaya? Juga apakah saudara tetap memperlakukan secara hormat seseorang yang hidup benar, walau ucapan dan perkataannya tidak mengenal kompromi? Bila saudara menjawab “ya” atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas berarti saudara telah mempersembahkan yang paling berharga kepada Tuhan. Tetapi bila jawaban saudara “tidak” atau “belum” berarti saudara harus segera berbenah diri agar hidup saudara makin terfokus dan hanya tertuju kepada kemuliaan Tuhan. Amin.

Saudara-saudara yang kekasih

Melalui ke 3 bacaan yaitu Yeremia, Roma dan Matius sebenarnya kita dipanggil untuk diutus di tengah-tengah masyarakat dari berbagai kehidupan, untuk menyambut semua orang berlaku dalam kebenaran, menyambut semua orang dengan cara menerima orang lain apa adanya, menghormati mereka sebagai apa adanya, yang pada waktunya masing-masing orang akan mengetahui kebenaran terhadap apa yang mereka lakukan dan ucapkan. Seperti Yeremia menghormati Hananya untuk mengungkapkan beritanya dan menguji dalam kebenaran, sehingga umat mengetahui yang berasal dari kehendak Tuhan. Karena pada hakekatnya setiap orang berhak menerima panggilan dari Allah untuk diutus, tergantung manusia yang menerima panggilan itu untuk kebenaran Allah atau untuk kepentingan pribadi, demikian juga Paulus mengingatkan agar kita tidak dikuasai oleh keinginan daging, tetapi hidup yang diserahkan kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Melalui kebenaran itulah sebenarnya kita semua telah mewartakan kasih Allah di tengah-tengah dunia ini, mewartakan kasih Allah dengan menyambut semua orang bagaikan seorang ibu muda menyambut seorang anak dan memberi segelas besar yang berisi susu. Menyambut semua orang yang sebenarnya melebihi apa yang mereka harapkan, seperti melebihi dari apa yang dipikirkan Sobur, hanya segelas air putih namun ia mendapatkan segelas besar susu. Segelas susu yang diberikan si Ibu muda telah memberikan dampak luar biasa bagi seorang anak yang ternyata Dr. Sobur. Ketika memberi segelas susu bagi seorang anak yang miskin itu, si ibu itu tidak berpikir balasan yang akan diterima nantinya. Semua ada yang mengatur yaitu Allah kita, memberi dari kelebihan mungkin hal yang biasa yang sudah seharusnya dilakukan. Namun, ketika memberi dari kekurangan kita, di sinilah pemaknaan hidup yang lebih tinggi.

Jemaat yang dikasihi Tuhan.

Kita bisa memulainya sekarang dari hal yang kecil, sebagai suami kita diutus menyambut istri kita sebagai mana adanya dia, sebagai istri kita dipanggil untuk menerima suami sebagaimana janji kita kepada Tuhan, sebagai orangtua kita diajak menyambut anak-anak kita dalam ketulusan dan kepolosan mereka, sebagai keluarga kita diutus menyambut masyarakat kita untuk dapat mengenal Allah melalui perbuatan kita, sebagai gereja kita diutus untuk menyambut segala bangsa untuk diajar dalam nama-Nya. Sambutlah setiap orang dengan kerendahan hati karena itulah yang dikehendaki Allah untuk mewartakan cinta kasih-Nya. Selamat hari minggu Tuhan memberkati. Amin.

v Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah :Lukas 18:7

Petunjuk Hidup Baru : Amsal 3:27

Persembahan : 25:21,22

v Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka : KJ 13 : 1,3

Nyanyian Penyesalan : KJ 40 : 1,2

Nyanyian Kesanggupan : KJ 240a:1,2

Nyanyian Persembahan : KJ 450 : 1-

Nyanyian Penutup : KJ 424 : 1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 26 Juni 2011

Minggu Biasa Kaping Tiga Welas (Ijo)

DEN TAMPI SaDAYA TIYANG

Waosan I: Yeremia 28:5-9; Tanggapan: Jabur 89: 1-4, 15-18;

Waosan II: Rum 6:12-23; Waosan Injil: Mateus 10:40-42

Tujuan:

Maringi papan, tetulung, ngulungaken asta kaliyan sadhengah priyantun lumantar punapa ingkang kita gadhahi kanthi tulus ikhlas, mboten nggadhahi pengajeng-ajeng nampi piwales bab punapa kemawon.

v Khotbah Jangkep

Para sedherek ingkang kinasih ing Gusti Yesus Kristus,

S

atunggaling wekdal wonten gereja ingkang nimbali pelados ngladosi ibadah lan paring paseksi ngengingi peladosan ingkang sampun katindakaken ing salebeding 20 taun. Piyantunipun prasaja sanget, piyambakipun anggenipun khotbah boten ngagem jas utawi dasi. Khotbahipun ugi prasaja, ananging cetha lan titis sanget. Lan ingkang ndadosaken pasamuwan sami langkung kesengsem inggih punika manahipun. Piyambakipun nggadhahi niat ingkang tulus anggenipun leladi tumrap lare-lare gelandangan, tiyang-tiyang kampung ugi para tiyang ing pakunjaran. Saking manahipun tuwuh keyakinan bilih punapa ingkang dipuntindaaken punika prakawis ingkang leres, awit nyondhongi pangandikanipun Gusti, piyambakipun nampeni sedaya tiyang tanpa mawang tiyang.

Menawi kita tandhingaken kaliyan keyakinan pandhita kala wau, saestu leres. Kita leladi kagem Gusti kita boten perlu nindakaken kanthi cara ingkang ngedab-edabi, ananging kita saged miwiti kanthi prakawis ingkang prasaja, “ngaturi toya seger” tumrap tiyang tiyang ingkang kekirangan.

Bok bilih sampun sawetawis wekdal pangertosan ngengingi leladi punika namung ing salebeding tembok gereja kemawon. Boten ateges punapa ingkang sampun katindakaken ing salebeding gereja punika lepat, ananging ngemuti pangandikanipun Gusti Yesus, sampun samestinipun kita ugi nggatosaken sedherek ingkang wonten sanjawinipun gereja. Mila sampun wancinipun kita leladi dhateng sedherek ing sanjawining gereja amrih saged ngundangaken kabar kabingahan punika.

Aosing pisungsung ingkang kinersakaken dening Gusti Allah sanes prakawis jumlah lan kathahipun, anaging katemenan ing salebeding ngaturaken. Pramila punika, ing Injil Matius 10:42, Gusti Yesus ngendika, “Apadene sapa kang aweh banyu kang seger marang salah sawijining wong cilik iki senadyana mung sacangkir, marga iku sakabatKu, aku pitutur marang kowe satemene: wong iku bakal tampa pituwase.”

Salugunipun, toya punika sanes barang ingkang awis, meh sedaya tiyang gadhah, kajawi wonten ing ara-ara. Ananging nalika kita purun nyawisaken lan nyukani toya punika dhateng tiyang ingkang mbetahaken, kita sampun ndadosaken renaning penggalihipun Gusti.

Awit estunipun ingkang kita sukakaken sanes namung sadremi toya, ananging katresnan, kawigatosan lan praupan ingkang sumeh dhateng sesami. Lumantar toya sacangkir kala wau, kita nelaaken manah ingkang kebak katresnan.

Punapa nate kita trenyuh karana satunggaling prakawis ingkang katindakaken dening tiyang, ingkang estunipun punika prakawis ingkang prasaja sanget nanging katingal tulus lan gita-gita anggenipun nindakaken? Punapa kosok wangsulipun, panjenengan nate nampi satunggaling barang utawi nampi satunggaling pitulungan, ananging manah panjenengan awrat anggenipun nampi karana katingal bilih punika katindakaken karana pamrih?

Ing Injil Matius 10:41, Gusti Yesus ngendika,”Sing sapa nampani nabi marga saka dadi nabi, bakal tampa pituwasing nabi. Lan sing sapa nampani wong mursid, amarga saka anggone mursid, bakal tampa pituwasing wong mursid.” Gusti Yesus boten namung ngengetaken kadospundi kita kedah nggatosaken tiyang ingkang kekirangan utawi tiyang alit, ananging kita ugi kedah nggatosaken lan nampi tiyang mursid lan tiyang ingkang leres.

Pitedah punika ngengetaken kita dhateng patrap ingkang katindakaken dening Raja Herodes dhumateng Yokanan Pembabtis. Herodes sampun ngginakaken panguwaosipun kangge mejahi Yokanan Pembabtis.

Samangke timbalan tumrap tiyang pitados inggih punika kadospundi cara anggenipun ngaosi tiyang mursid, tiyang ingkang sampun leladi kagem Gusti. Asring sanget kita kirang paring kawigatosan, kita ngganggep limrah kemawon menawi tiyang punika nindakaken kasaenan. Sampun samestinipun, tiyang punika ngladosi kita. Temtunipun menawi kita cundhukaken kaliyan pangandika punika, kita nggadhahi kuwajiban nggatosaken gesangipun, nyengkuyung amrih tansah saged nindakaken kasaenan, pitulungan, peladosan. Punapa ingkang saged kita sukakaken amrih asmanipun Gusti kaluhuraken lumantar pelados punika ?

Punapa kita ugi nate menggalihaken bilih para pelados punika ugi kagungan brayat ingkang ugi mbetahaken uba rampe gesang ingkang limrah ?

Para sedherek ingkang kinasih,

Den tampi tiyang sanes kanthi tansah menggalih sae.

Kacariyosaken, wonten satunggaling lare ingkang ngelak lan luwe, mlampah sacelakipun perumahan gedhong ingkang sae. Karana raos ngelakipun, piyambakipun kumawantun nothok salah satunggaling griya karana pamrih toya pethak sagelas kemawon. Sinaosa mangu-mangu ananging piyambakipun wantun nothok satunggaling griya. Sasampunipun nothok, satunggaling ibu ingkang taksih nem mbikakaken lawangipun.… Kanthi ajrih lan bingung lare punika matur, “Bu, punapa kepareng kula nyuwun toya setunggal gelas kemawon?”

Begja dene ibu punika nggadhahi welas asih, mila ibu punika mlebet mendhetaken satunggal gelas ageng sanes toya, ananging susu. Sasampunipun dipun ombe, lare punika nyuwun pirsa, “Bu, kula kedah nggantos pinten rupiah susu punika?” Ibu punika mangsuli, “Ra sah bok bayar, wongtuwaku mbiyen tansah mulang supaya mitulungi tanpa pamrih.” Ibu punika ningali lare punika kanthi trenyuh.

Sasampunipun mataun taun, ibu punika sampun adi yuswa, sampun dados randha, bandhanipun sampun kathah ingkang suda karana kangge wragat pengobatan lan kabetahan padintenan. Karana ing kitha punika rumah sakitipun alit, mila ibu punika dipun bekta dhateng kitha ageng ing pundi rumah sakitipun saestu mumpuni. Dr. Sobur NA, kasuwun supados naliti saestu sesakit ingkang karaosaken dening ibu punika. Sasampunipun nyawang lan wawan rembag saha maos kawontenanipun ibu punika, Dr. Sobur yakin bilih piyambakipun tepang kaliyan ibu punika.

Kanthi telatos lan kapinteranipun, Dr. sobur prajanji badhe mitulungi ngantos dumugi sarasipun. Lan Dr. Sobur weling dhateng bagian administrasi supados sedaya tagihan ibu punika dipun tanggelaken dhateng piyambakipun.

Pengobatan tansah katindakaken ngantos 3 wulan, ibu punika saestu sampun saras lan pareng kundur ing griyanipun. Ananging, ibu punika malah sisah, karana kedah nglunasi tagihan ingkang sampun ngantos 3 wulan punika. Sasampunipun nampi serat saking perawat, kanthi ajrih amplopipun dipun bikak, iba kagetipun nalika maos: ”Telah dibayar lunas dengan segelas susu.” Ingkang tapak asma: Dr. Sobur NA.

Para sedherek ingkang kinasih,

Punapa ta estunipun ingkang ndadosaken kabingahan kita? “Suka kabingahan dhateng asanes” inggih, punika leres. Nyukani, ngaturi, maringi, punika satunggaling patrap ingkang saestu mbingahaken, awit punika wujuding patrap ingkang andhap asor. Sangsaya endah lan jangkep malih nalika asung pitulungan punika babarpisan tanpa pamrih linangkung tumrap sedherek ingkang mbetahaken.

Satunggaling ibu ingkang nyukani susu sagelas punika ngemu suraos boten namung nyukani supados boten ngelak malih, ananging mujudaken pitulungan ingkang asipat nggesangaken, pitulungan ingkang sampun dipun tampi satunggaling lare, kados dene nampeni Gusti.

Suka pitulungan, ngemu teges nindakaken niat kanthi sepi ing pamrih. Awit samukawis ingkang kita tindaaken sampun kapirsanan dening Gusti. “Menawa satrumu luwe, wenehana mangan roti,menawa ngelak, wenehana ngombe banyu. Awit kowe bakal ngentepi mawa ing sirahe, sarta Pangeran Yehuwah bakal males marang kowe,” (Wulang Bebasan 25:21,22).

Satunggaling penelitian longitudinal, mbuktekaken bilih tiyang ingkang remen suka pitulungan tanpa pamrih, sanyata nggadhahi daya kekiyatan ingkang linangkung tinimbang sanesipun lan langkung kiyat anggenipun ngadhepi pacobening gesang, sarta langkung kiyat ngadhepi penyakit ingkang tuwuh karana stress.

Para sedherek ingkang kinasih,

Saben tiyang ingkang gesangipun tebih saking katresnan, mbedakaken tiyang karana agami, kalenggahan, drajat, lan taksih ngremehaken tiyang, saha boten mreduli dhateng tiyang… Estunipun punika sami kemawon kaliyan njeksani, sampun mundhut hakipun Gusti, pramila punika sumangga sami sowan dhateng panjenenganipun, nyuwun pangapunten lan nyuwun dipun sadaraken supados tuwuh raos katresnan.

Para sedherek ingkang kinasih

Lumantar waosan punika, kita tinimbalan anggenipun nampi sadaya tiyang, kanthi kawontenan punapa kemawon, ngaosi sedaya tiyang tanpa mawang sinten tiyang punika, kita pitados bilih wonten wekdalipun tiyang punika badhe mangertosi bab kaleresan ingkang sami dipun raosaken. Kadosdene nabi Yeremia ngaosi Hananya anggenipun nguji kaleresan, satemah umatipun Gusti mangertos pundi kaleresan ingkang pinangkanipun saking Gusti. Sedaya tiyang tinimbalan kautus dados berkah tumrap tiyang sanes. Ananging wangsul malih dhateng tiyang punika piyambak, purun nampi utawi nampik. Rasul Paulus ngengetaken supados peranganing badan punika prayoginipun kedah kaaturaken minangka pisungsung kagem Gusti lumantar samukawis ingkang saged kita tindaaken tumrap tiyang sanes.

Martosaken kabar kabingahan punika boten sanes inggih kanthi nampeni dhateng sadaya tiyang, kadosdene satunggaling ibu ingkang nampeni Sobur kanthi susu sagelas. Punika estunipun nglangkungi saking punapa ingkang dipun kajengaken dening Sobur, namung toya sagelas. Ananging pituwas saking susu sagelas saestu nggadhahi daya gesang ingkang ageng. Nalika nyukani susu, ibu punika babarpisan boten nggadhahi pamrih punapa kemawon, ibu punika boten nggadhahi panjangka bilih satunggaling wekdal badhe nampi piwales saking lare punika. Sedaya punika wonten ingkang mranata inggih punika Gusti Allah, nyukani ing salebeding kaluberan, punika prakawis limrah, ananging ing salebeding kekirangan punika anama aosing gesang.

Sumangga kita sami miwiti saking prakawis ingkang alit, minangka tiyang jaler kita tinimbalan nampeni tiyang estri punapa wontenipun, lan kosok wangsulipun. Minangka tiyang sepuh kita tinimbalan nampeni lare lare punapa wontenipun, minangka brayat kita tinimbalan nampeni masyarakat amrih sami wanuh dhumateng Gusti Allah lumantar tumindak kita. Sumangga sami den tampi sadaya tiyang, kanthi andhap asoring manah. Amin.

v Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos sihrahmat :Lukas 18:7

Pitedah Gesang Anyar : Amsal 3:27

Pangatag Pisungsung : 25:21,22

v Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka : Kidung BMGJ 9;1.2

Kidung Panalangsa : Kidung BMGJ 46:1,2

Kidung Kasanggeman : Kidung BMGJ 105:1-3

Kidung Pisungsung : Kidung BMGJ 137:1-

Kidung Panutup : Kidung BMGJ 78:1,2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar